Momen liburan atau kumpul keluarga di Indonesia identik dengan yang manis-manis. Mulai dari es campur, boba, kopi susu gula aren, sampai sirup segar. Meskipun begitu, minuman manis seringkali dihindari oleh Sahabat Sehat yang mengalami diabetes atau yang sedang diet karena bisa bikin berat badan naik. Padahal, terlalu banyak mengonsumsi minuman manis dampaknya bisa lebih dari itu.
Di balik rasanya yang nikmat, terlalu sering mengonsumsi minuman manis ternyata juga pelan-pelan mengganggu kesehatan tulang. Kok bisa?

Minuman manis bikin tulang keropos?
Minuman manis memang memanjakan lidah, tapi siapa sangka terlalu sering mengonsumsinya bisa mengancam kesehatan tulang. Sebuah meta analisis dari puluhan studi yang dimuat dalam Nutrition Journal menemukan bahwa orang dewasa sehat yang sering mengonsumsi minuman manis cenderung memiliki kepadatan tulang lebih rendah. Artinya, semakin sering Sahabat Sehat menikmati minuman manis, semakin besar risiko tulang menjadi rapuh.
Mengapa bisa begitu? Ada beberapa hal yang membuat minuman manis dapat berdampak pada kesehatan tulang. Mengonsumsi gula berlebih bisa membuat tubuh membuang kalsium yang seharusnya disimpan di tulang. Jika ini terus terjadi, lama-kelamaan kepadatan tulang bisa jadi menurun dan berisiko menyebabkan terjadinya osteoporosis.
Minuman bersoda atau kopi manis biasanya juga memiliki tingkat keasaman yang tinggi dan mengandung kafein. Kondisi ini dapat menurunkan efisiensi tubuh dalam menyerap kalsium dari makanan. Jadi meskipun asupan kalsium cukup, tubuh tidak bisa memanfaatkannya secara optimal. Selain itu, pemanis seperti high-fructose corn syrup (HFCS) yang banyak digunakan dalam minuman manis juga dikaitkan dengan gangguan fungsi ginjal dan ketidakseimbangan mineral, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan tulang.

Apa masih boleh mengonsumsi minuman manis?
Tentu saja boleh, Sahabat Sehat. Menurut anjuran resmi Kementerian Kesehatan RI, batas konsumsi gula adalah maksimal 50 gram atau kurang lebih 4 sendok makan per hari. Supaya ngga memberikan efek buruk bagi kesehatan tulang, pastikan untuk ngga mengonsumsi lebih dari batas anjuran tersebut.
Selain itu, American Heart Association (AHA) menyarankan supaya asupan gula tambahan tidak lebih dari 6% dari total kalori harian. Bagi laki-laki, batas ini setara dengan sekitar 9 sendok teh atau 36 gram gula, sedangkan bagi perempuan sekitar 6 sendok teh atau 25 gram.
Gula tambahan bisa diartikan sebagai gula yang dimasukkan ke dalam makanan atau minuman saat proses pembuatan, berbeda dengan gula alami yang memang sudah ada di buah atau bahan segar lainnya. Dalam daftar bahan, gula tambahan bisa muncul dengan berbagai nama, seperti sirup, nektar, madu, atau pemanis yang biasanya berakhiran dengan “-osa”, seperti fruktosa, dekstrosa, atau sukrosa.
Minuman kemasan biasanya sudah mencantumkan jumlah gula tambahan secara jelas, jadi Sahabat Sehat bisa lebih bijak dalam memilih dan mengontrol konsumsi sehari-hari.

