Tahukah kamu, program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia sudah terlaksana sejak tahun 1957. Program ini bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dengan mengatur jumlah anak, jarak kelahiran, dan usia ideal melahirkan. Pemerintah bahkan mencanangkan 2 anak cukup, tapi sayangnya masih banyak yang ngga mengetahui pentingnya alat kontrasepsi serta enggan menggunakannya.
Pil KB merupakan alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan, selain suntik KB. Namun, terdapat penelitian yang menunjukkan hubungan antara kejadian stroke dengan penggunaan pil KB. Mengapa bisa begitu? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!
Apa saja kandungannya?
Pil KB umumnya mengandung hormon sintesis (buatan) yang terdiri dari progesteron dan estrogen. Ada beberapa yang hanya mengandung progesteron saja. Pada tahun 1962, kontrasepsi oral ini mengandung hormon estrogen yang tinggi, hingga mencapai 150 mikrogram. Kemudian muncullah kasus stroke pada wanita yang mengonsumsi pil KB. Oleh karena itu, dosisnya dikurangi menjadi sekitar 20-30 mikrogram estrogen. Angka ini sudah dianggap aman untuk mencegah timbulnya kasus stroke.
Stroke karena pil KB
Estrogen diperkirakan bisa memicu pembekuan darah dan kenaikan tekanan darah. Keduanya lalu dikaitkan dengan kejadian stroke. Berdasarkan penelitian, kontrasepsi oral ini mampu meningkatkan kasus stroke 1,9 kali lipat lebih banyak dibandingkan mereka yang ngga mengonsumsinya. Namun, risiko stroke pada wanita yang mengonsumsi pil KB sebenarnya masih tergolong sangat rendah. Diperkirakan hanya mengakibatkan 1 kasus stroke pada 25.000 wanita usia subur.
Risiko ini akan bertambah pada wanita yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi, migrain, dan perokok. Jadi, jika kamu ngga memiliki riwayat-riwayat tersebut, penggunaan pil KB sebagai kontrasepsi bisa dikatakan aman, ya!
Bagaimana pencegahannya?
Adanya risiko stroke pada pengguna kontrasepsi akan membuat kamu semakin sadar betapa pentingnya melakukan konseling untuk menentukan kontrasepsi mana yang aman dan nyaman. Dokter atau bidan biasanya menanyakan riwayat penyakit yang pernah kamu alami. Ibu yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi, gejala stroke ringan, migrain, dan perokok akan disarankan menggunakan kontrasepsi lain seperti IUD, suntik, susuk KB, atau diafragma/intravagina.
Nah, jangan karena adanya risiko stroke kamu jadi takut untuk menggunakan alat kontrasepsi. Risikonya pun terbukti sangat rendah sehingga konsumsinya tergolong aman. Penggunaaan kontrasepsi ini sangat penting untuk meningkatkan kesehatan para ibu. So, konsultasikan dengan dokter dan gunakan kontrasepsi yang sesuai, aman, dan nyaman berdasarkan kondisi masing-masing. Jangan lupa bagikan artikel menarik ini ke orang-orang di sekitar kamu, ya!
Editor & Proofreader: Mega Kurniawati, SGz

