Berbahayakah ROS yang terbentuk selama Olahraga?

Teman Sehat, di masa new normal ini banyak sekali masyarakat yang memulai kegiatan olahraga untuk menjaga staminanya. Tapi, tahukah kamu kalau kegiatan ini, juga bisa menghasilkan ROS (Reactive Oxygen Species), loh! Kira-kira zat yang dihasilkan selama olahraga ini berbahaya ngga, ya? Yuk, simak penjelasannya di sini!

Pengertiannya,

Reactive oxygen species (ROS), merupakan molekul reaktif dan bersifat radikal bebas yang berasal dari molekul oksigen. Radikal bebas berifat ngga stabil dan bisa bereaksi dengan molekul lainnya. ROS merupakan zat hasil samping dari proses metabolisme tubuh, loh! Jadi, memang alami dihasilkan oleh tubuh.

Cara kerjanya,

ROS juga berkaitan dengan fungsi metabolik dan pengaturan peradangan di dalam sel. Zat ini bermanfaat dalam situasi tertentu, seperti saat makrofag untuk membunuh bakteri. Tapi, dalam konsentrasi tinggi bisa menyebabkan ketidakseimbangan redoks (reduksi-oksidasi) di dalam tubuh.

  

Hal ini bisa mengakibatkan kerusakan sel hingga jaringan di dalam tubuh. Kelebihan zat ini, berkaitan erat dengan risiko berbagai penyakit, seperti inflamasi (peradangan), aterosklerosis, kanker, penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, hipertensi, penuaan, hingga penyakit penurunan fungsi syaraf.

Pembentukannya selama olahraga

Zat antioksidan di dalam tubuh, banyak tersimpan di dalam sel tubuh yang berfungsi melindungi otot dari kerusakan yang disebabkan oleh ROS. Oleh sebab itu, zat ini bisa merangsang produksi antioksidan dalam sel otot.

Tapi, bagaimana jika tubuh menerima aktifitas fisik secara berlebihan? Ternyata, otot akan kelebihan ROS dan bisa menghambat produksi antioksidan di dalam tubuh. Nah, hal ini yang akan menyebabkan tubuh mengalami stres oksidatif dan berisiko terserang gangguan kesehatan.

Olahraga yang memengaruhi produksi ROS

Produksi zat ini dipengaruhi oleh jenis olahraga yang dilakukan, yaitu aerobik dan anaerobik. Olah raga aerobik atau kardio, merupakan olahraga yang mengutamakan pengaturan pernafasan, karena tubuh membutuhkan oksigen untuk proses pembakaran energi dan pergerakan otot.

Jenis ini akan menghasilkan zat ini dalam jumlah yang tinggi. Contohnya berenang, bersepeda, berlari, mendayung, berjalan, senam dan latihan kardio lainnya. American Heart Association (AHA) merekomendasikan olah raga kardio dilakukan selama 150 menit/minggu dalam intensitas sedang dan 75 menit/minggu dalam intensitas berat.

Sedangkan olahraga anaerobik merupakan olahraga yang ngga memerlukan energi dalam jumlah banyak. Olahraga ini menghasilkan ROS dalam jumlah yang lebih rendah, sehingga bisa dilakukan dengan durasi yang lebih lama, contohnya sprint.

Nah, sekarang sudah paham kan Teman Sehat, bagaimana olah raga yang tepat agar ROS yang dihasilkan bermanfaat? Yuk, tetap jaga intensitasnya agar manfaatnya terasa, bukan malah menjadi bumerang untuk mu, ya! Stay healthy!

Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *