Burnout, Istilah Stres Zaman ‘Now’

Teman Sehat, sebagai generasi milenial yang hidup di pesatnya perkembangan zaman dengan segala kemudahan yang ada ya, banyak milenial yang berekspektasi lebih pada kesuksesannya. Terkadang tuntutan pekerjaan dan berbagai tekanan yang tinggi, bisa meningkatkan risiko stres pada pekerja, sehingga menyebabkan kondisi kelelahan secara fisik maupun mental.

Jika dibiarkan terlalu lama dan penderitanya ngga mampu menontrol stres ini, maka akan memperparah keadaan hingga menyebabkan burnout. Apakah itu? Yuk, simak penjelasannya di sini!

Apasih burnout?

Dikutip dari penelitian Maslach dan Leiter pada tahun 2016, burnout didefinisikan sebagai suatu sindrom yang terjadi karena kondisi stres yang berkepanjangan, sehingga menyebabkan stres kronis di tempat kerja. Ketika kamu sudah mulai merasa lelah, stres, dan cemas yang terus menerus, bahkan setelah pekerjaan beratmu selesai, kamu patut waspada ya!

Hal ini dikarenakan kamu bisa berisiko terkena sindrom ini. Dikutip dari BBC Indonesia, seseorang dapat dikatakan mengalami sindrom ini jika merasa sinisme atau anggapan bahwa pekerjaan yang dikerjakan tidak ada nilainya, menghindar pada komitmen sosial, serta lebih gampang merasa kecewa.

Perhatikan penderitanya

Menurut WHO dalam laman websitenya, terdapat 3 karakteristik yang terkait dengan burnout yaitu merasa kehabisan energi atau kelelahan, perasaan negatif terhadap pekerjaan, dan penurunan profesionalitas. Pada Mei 2019 lalu, WHO mengklasifikasikan burnout menjadi suatu penyakit atau fenomena internasional, loh! Sindrom ini dikatakan sebagai sindrom kelelahan bekerja yang terjadi akibat stress kronis yang belum berhasil untuk dikelola.

Mengasingkan diri, salah satu tandanya

Ketika menghadapi berbagai tuntutan pekerjaan, ngga jarang seseorang merasa dirinya menjadi kurang optimal dalam melakukan suatu pekerjaan hingga menimbulkan perasaan ngga puas. Keadaan ini biasanya menyebabkan seseorang merasa terasingkan dan berusaha menarik diri dari orang-orang disekitar lingkungan kerjanya.

Tapi perilaku ini harus dikurangi, ya. Jika terlalu sering dilakukan, bisa mendorong dirimu masuk lebih dalam pada perasaan tertekan. Sekedar ikut berbincang, bercanda, atau mungkin curhat dengan orang terdekatmu, akan membuat perasaanmu lebih lega.

Terlalu perfeksionis,

Menginginkan hasil kerja yang sempurna merupakan hal yang bagus. Tapi segala hal yang berlebihan cenderung kurang baik. Menurut Fairlie dalam penelitiannya, perfeksionisme merupakan faktor kerentanan terhadap burnout. Sifat ini perlu dikurangi, karena biasanya perfeksionis akan cenderung lebih mudah frustasi jika hasil kerjanya ngga berjalan dengan sempurna. Selain itu, ketika sifat ini bisa menyita waktu istirahatmu, ini akan membawa dampak yang ngga baik bagi kesehatan.

Berbohong pada diri sendiri

Cobalah untuk jujur pada dirimu sendiri. Tanyakanlah pada dirimu, setelah semua yang telah dilakukan, tentunya diri sendirilah yang paling mengetahui kondisinya. Membangun pola pikir yang positif untuk dirimu sendiri, penting loh!

Hal ini akan memberikan sugesti positif bahwa kamu bisa menjadi seseorang yang berarti dan akan membuatmu lebih nyaman dengan dirimu sendiri. Dikutip pada majalah Forbes, ketika pekerjaan yang kamu lakukan sesuai dengan yang kamu inginkan maka kelelahan akan berkurang karena kamu merasa nyaman dengan dirimu sendiri di tempat kerja.

Nah Teman Sehat, itulah penjelasan burnout yang perlu kamu tahu. Yuk, jaga kesehatan mentalmu! Jangan sampai, ambisimu mengesampingkan kesehatan tubuh!

Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *