Baru-baru ini masyarakat sempat dihebohkan oleh adanya cemaran mikroplastik pada air hujan yang turun di sekitar wilayah ibu kota. Meskipun bukan fenomena baru, hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan adanya peningkatan kadar mikroplastik yang signifikan beberapa tahun belakangan ini.

Bagaimana mikroplastik bisa ada pada air hujan?
Mikroplastik merupakan partikel plastik yang diameternya berkisar antara 1 μm dan 5 mm. Dari mana asalnya? Mikroplastik bisa berasal dari berbagai sumber, seperti sisa atau pecahan sampah kantong plastik, serat kain sintetis, dan partikel yang terlepas dari ban kendaraan. Saat hujan turun, air akan menyapu partikel plastik halus yang ada di jalan, atap, atau permukaan lainnya, lalu membawanya mengalir melalui selokan dan akhirnya bermuara ke sungai, danau, serta laut. Dengan kata lain, hujan menjadi salah satu media penyebaran polusi plastik ke lingkungan.
Bukan hanya di Indonesia, ternyata isu cemaran mikroplastik pada air hujan telah menjadi permasalahan global. Bahkan di beberapa negara lain, seperti Amerika, Tiongkok, dan Spanyol, cemaran ini tak hanya ditemukan dalam air hujan, melainkan juga pada salju dan pasir di wilayah pantai.

Dampaknya bagi kesehatan
Efek cemaran mikroplastik ini sangatlah luas, mulai dari efeknya bagi ekosistem di lingkungan hingga kesehatan manusia. Mikroplastik yang menempel langsung di kulit bisa menjadi pembawa bagi bahan kimia berbahaya yang dicampurkan dalam proses pembuatan plastik, seperti pelembut (ftalat) dan BPA. Bahan-bahan inilah yang kemudian berpotensi menjadi penyebab terjadinya iritasi dan alergi, terutama bagi Sahabat Sehat yang memiliki kulit sensitif dan riwayat eksim atopik.
Selain itu, keberadaan mikroplastik pada air hujan bisa menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan dan manusia. Partikel ini dapat termakan oleh hewan kecil di air, lalu berpindah ke hewan yang lebih besar, dan akhirnya berpotensi masuk ke dalam rantai makanan Sahabat Sehat. Selain dari wilayah perairan, tanah yang tercemar juga membuka peluang masuknya cemaran mikroplastik ke dalam tubuh melalui makanan.
Bukan hanya menyebabkan reaksi peradangan dan alergi, mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh juga bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang. Salah satu hasil studi review yang dimuat dalam Environment and Health (Washington, D.C.) mengungkapkan bahwa mikroplastik yang terakumulasi dalam tubuh diduga dapat memicu kerusakan sel akibat radikal bebas, gangguan metabolisme, serta menyebabkan masalah kesehatan yang berkaitan dengan sistem saraf dan reproduksi.
Sahabat Sehat, sayangnya penelitian tentang bagaimana mikroplastik diserap, didistribusikan, dimetabolisme, dan menumpuk di dalam tubuh masih sangat terbatas. Faktor yang menentukan tingkat keparahan efek racunnya juga masih perlu ditelaah lebih dalam.

