Makanan Favorit Millenials, menjadi Pertanyaan Menarik di CERITA MAMI KEREN

Teman Sehat, saya bersyukur diberi kesempatan menjadi nara umber utama setiap harinya di acara online CERITA MAMI KEREN  (Ceramah dan Diskusi Seputar Makanan, Minuman,  Kesehatan Ramadan dan Lebaran) melalui perangkat Zoom (ID 827 0637 0838 dan password 053020) yang  selalu dihadiri ratusan peserta dari kaum millennials. Saya kagum terhadap peran aktif peserta dan kualitas pertanyaanya yang menyentuh permasalahan praktis pangan dan kesehatan dalam keseharian kita.

Pada tulisan sebelumnya berjudul “Kagum dengan Acara dan Peserta CERITA MAMI KEREN” telah saya ungkap berbagai pertanyaan menarik dari peserta tentang pangan dan kesehatan dalam kehidupan, termasuk salah satunya adalah “Amankah makan mi instan?”  Pertanyaan  ini sering ditanyakan saat saya memberi ceramah di berbagai kota tentang pangan gizi dan kesehatan. Ternyata pertanyaan ini juga muncul di chat acara CERITA MAMI KEREN episode ke-3 dan episode ke-7. Nah, Teman Sehat, pertanyaan yang satu ini akan saya jawab pada kesempatan ini.

Mi instan, apakah aman?

Teman Sehat, ada dua penelitian yang pernah dilakukan menganalisis hubungan konsumsi mi instan dengan faktor sindrom metabolik seperti obesitas, lingkar pinggang, kolesterol, trigliserida, gula darah dan tekanan darah. Kedua penelitian ini di lakukan pada penduduk Korea yang pada umumnya menggunakan data sekunder. Mi instan dimaksud  adalah mi instan khas korea yaitu ramen.

Pada tahun 2014, Shin HJ dkk menganalisis data survei Kesehatan dan Gizi Korea.  Judul artikel jurnal yang ditulis Shin HJ dkk adalah  “Instant noodle intake and dietary patterns are associated with distinct cardiometabolic risk factors in Korea” dan kesimpulannya hanya pada perempuan, yaitu  “The consumption of instant noodles was associated with increased prevalence of metabolic syndrome in women …”

Bila dicermati definisi kardiometabolik yang digunakan yang disajikan di bagian metode, dan dikaitkan dengan hasil yang disajikan pada table 5 tampak ada kejanggalan.  Seharusnya karena tidak satupun dari masing-masing enam faktor kardiometabolik (obesitas, hiperglikemia, hipertrigliserida, Rendah HDL, Tinggi LDL dan hipertensi) berhubungan dengan frekuensi makan mie instan maka faktor turunannya  yang disebut sindroma metabolik harusnya juga tidak berhubungan, dengan subjek yang sama.

Membanding judul dan kesimpulan artikel tersebut  terkesan bias, karena pada kesimpulannya hanya terdapat pada subjek perempuan sedangkan pada judul seakan juga bagi pria.  Peneliti pada bagian akhir artikel juga menyadari kelemahan penelitian ini berupa survei belah lintang (crossectioanal study), bukan eksperimental klinis, sehingga tidak bisa untuk menyatakan bahwa makan mi instan ramen Korea meningkatkan kejadian sindrom metabolik bagi perempuan Korea.

Namun hasil penelitian ini bagus untuk menjadi rumusan hipotesa studi eksperimental klinik untuk menjawab apakah makan mi instan meningkatkan kejadian sindrom metabolik pada perempuan, setelah dikontrol dengan berbagai faktor pengganggu?

Penelitian lainnya

Pada tahun 2017, Huh IS dkk meganalisis data sekunder kesehatan mahasiswa yang kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data konsumsi pangan melalui online. Peneliti terkesan bias karena memberikan judul artikel yang tidak sama dengan kesimpulannya.

Coba cermati hal berikut: Dalam kesimpulannya dinyatakan frekuensi konsumsi mi instan  yang sering mungkin berhubungan dengan faktor risiko kardiometabolik (“frequent consumption of instant noodles may be associated with increased cardiometabolic risk factors”), sementara judul artikelnya menunjukkan seakan konsumsi mi instan berhubungan dengan semua  faktor risiko kardiometabolik, dengan meniadakan kata mungkin.

Ini judul artikelnya: “Instant noodle consumption is associated with cardiometabolic risk factors among college students in Seoul”.  Kemudian antara kesimpulan dan hasil analisis statistik bias pula. Misalnya, pada hasil analisis tidak ada hubungan frekuensi konsumsi mi instan dengan semua faktor kardiometabolik (8 faktor) pada pria.

Hubungan hanya terdapat pada perempuan dan hanya pada satu faktor yaitu hipertrigliserida. Sementara jumlah subjek perempuan yang hipertrigliserida sangat kecil sekali (0.05% – 0. 6%).  Pada tabel juga tampak subjek perempuan yang lebih sering makan mi instan juga lebih sering makan daging berlemak,  makanan manis, minum soda dan alkohol, serta merokok, yang berpotensi  berhubungan dengan trigliserida yang tinggi.

Kelemahan penelitian

Kedua penelitian tersebut  memiliki beberapa kelemahan yaitu menggunakan disain studi belah lintang (crossectioanal study), bukan eksperimental klinis. Menyebabkan kesimpulan hanya terbatas pada asosiasi dua peubah, tidak bisa menyimpulkan sebab A maka berakibat B. Selain itu, pengumpulan data konsumsi pangan  dengan metode 24-hour recall atau estimasi sehari yang sarat bias untuk tujuan ini.

Kedua penelitian tersebut menggunakan tingkat kesalahan yang berbeda dalam membuat kesimpulan. Penelitian pertama menggunakan kesalahan 1%. Sedangkan penelitian kedua mengguanakan kesalahan 5%, yang bila menggunakan kesalahan 1% tidak satupun faktor metabolik tersebut berhubungan dengan frekuensi konsumsi mi instan.

Kedua penelitian tersebut sama-sama menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara frekuensi konsumsi mi instan dengan tekanan darah, gula darah, kolesterol HDL dan LDL.  Berdasarkan hal terebut, sampai saat ini belum ada bukti yang meyakinkan bahwa makan mi instan mengakibatkan gangguan metabolik atau tidak aman.

Lebih lanjut, terbuka penelitian eksperimental klinis untuk menjawab apakah makan mi instan berakibat sindrom metabolik.  Terkadang saya risih membaca tulisan orang yang merujuk suatu  jurnal tetapi tidak mencermati metode, isi, kesimpulan dan judul dengan seimbang; begitu hanya mengambil judulnya saja, maka bisa berakibat bias kepada pembaca tulisan.

Mi Instan dengan izin produksinya

Mi instan umumnya dibuat dari bahan baku utama tepung terigu, ditambah dengan Bahan Tambahan Pangan (BTP) seperti garam, minyak, gula,  penguat rasa umami dll (baca komposisi di kemasan) yang diperbolehkan. Di Indonesia, produsen mi instan harus mentaati peraturan Kementrian Kesehatan terkait BTP dan Standard Nasional Indonesia (SNI) Mi Instan yaitu  SNI 3551:2012, yang antara lain mengatur bahan, kemasan, syarat mutu dan keamanan, pengujian dan pengawasan.

Pengawasan produk sebelum dan saat dipasarkan dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.  Semua tepung terigu di Indonesia diwajibkan Pemerintah RI diperkaya vitamin B1, B2, B9 dan mineral zat besi dan zink untuk mengatasi masalah gizi bangsa, terutama anemia yang dialami sekitar separoh ibu hamil dan seperempat remaja serta usia produktif. Sepengetahuan saya kemasan mi instan di Indonesia menggunakan EPS Polystirine yang aman dan diizinkan BPOM RI.

Oleh karena itu, selagi produk mi instan yang teman sehat peroleh atau beli memiliki nomor BPOM RI MD sebagai jaminan telah terdaftar dan dikontrol BPOM, memiliki nomor sertifikasi dan logo Halal dari LPPOM sebagai jaminan halal, kemasan dan isi tidak berubah  baik bentuk dan cita rasanya, serta belum kadaluarsa, maka produk mi instan ini menurut saya aman dan halal dikonsumsi sesuai anjuran.

Anjuran konsumsinya

Anjurannya apa? Makanlah mi instan sebagai salah satu jenis pangan karbohidrat dengan makanan sumber protein seperti telur, daging ayam, tahu; atau makanan sumber serat seperti sayur, atau ditabur sereal.

Konsumsilah dalam jumlah yang tidak berlebih sebagai bagian dari pemenuhan gizi seimbang, yaitu dengan aneka ragam makanan dan minuman lainnya yang aman dan bergizi. Selain itu juga membatasi jumlah konsumsi maksimal gula (4 sdm atau 50 g), garam (1 sdm atau 5 g), lemak (5 sdm = 67 g)disertai olahraga dan perilaku hidup sehat lainnya setiap hari.

(Prof Dr Hardinsyah MS, Guru Besar Ilmu Gizi FEMA IPB University. President, Federation of Asian Nutrition Societies)

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *