Osteoporosis Remaja: Sekunder dan Idiopatik, Apa Penyebabnya?

Halo, Teman Sehat! Tahukah kamu bahwa osteoporosis (pengeroposan tulang) ngga cuma menyerang orang dewasa, tapi juga anak-anak? Yap, juvenile osteoporosis atau pengeroposan tulang remaja terjadi pada usia 7 – 13 tahun. Ada 2 jenis pengeroposan tulang, yaitu sekunder dan idiopatik. Bagaimana penjelasannya? Let’s check it out!

Secondary juvenile (pengeroposan tulang sekunder)

Pengeroposan ini, biasanya terjadi pada anak-anak dan bisa berkembang karena kondisi penyakit lainnya. Beberapa penyakit yang bisa menyebabkannya, yaitu:

  • Diabetes tipe 1, seseorang yang menderita penyakit ini, memiliki kualitas tulang yang cenderung buruk dan memiliki risiko patah tulang. Timbulnya penyakit ini di usia muda, ketika massa tulang masih meningkat, akan meningkatkan risiko anak mengalami pengeroposan tulang sekunder.
  • Cystic fibrosis (kelainan genetik yang menyerang paru-paru). Gangguan ini menyebabkan infeksi paru-paru yang berulang dan terus-menerus. Hal ini menyebabkan kemampuan untuk bernapas terbatas. Penyakit ini bisa memperlambat proses pubertas dan pertumbuhan tulang anak, sehingga menyebabkan tulang menjadi lemah.
  • Malabsorpsi (penyerapan zat gizi kurang optimal), gangguan ini seperti penyakit radang usus menahun (crohn) yang bisa menyebabkan asupan zat gizi dari usus berkurang, termasuk kalsium dan vitamin D. Hal inilah yang menyebabkan risiko pengeroposan dan patah tulang meningkat.
  • Pengobatan, obat anti kejang dan obat kortikosteroid (meredakan peradangan) juga bisa menyebabkan pengeroposan tulang sekunder. Oleh karena itu, diperlukan konsultasi lebih lanjut ke dokter, mengenai kepadatan tulang.

Idiophatic juvenile (pengeroposan tulang idiopatik)

Merupakan pengeroposan tulang yang penyebabnya belum diketahui dan cenderung jarang terjadi. Gejalanya yaitu berupa nyeri atau bentuk tulang belakang yang ngga normal. Meskipun sebagian besar kepadatan tulang bisa kembali saat pubertas, anak-anak dengan gangguan ini, kepadatan tulangnya masih belum normal ketika usia dewasa. Diagnosisnya yaitu:

  • Tidak ada riwayat keluarga yang menderita osteoporosis remaja
  • Adanya osteoporosis tulang pada radiografi (penggunaan sinar X)
  • Tidak ada kerusakan kolagen (protein tubuh) pada biopsi kulit (pengambilan jaringan tubuh untuk pemberiksaan laboratorium)
  • Tidak ada penyebab keropos tulang lainnya yang bisa diidentifikasi

Gejala awal

Tanda awal seorang anak menderita osteoporosis yaitu adanya nyeri pada punggung bawah, pinggul dan kaki. kemudian adanya kesulitan berjalan/berjalan dengan pincang, dan fraktur (patah tulang) pada lutut atau pergelangan kaki.

Pengobatan

Dokter akan membuat rekomendasi pengobatan berdasarkan penyebab osteoporosis yang diderita anak. Hingga saat ini, belum ada obat yang disetujui digunakan anak-anak, termasuk yang dikonsumsi oleh orang dewasa.

Semua anak, termasuk penderita gangguan ini, membutuhkan gaya hidup yang membantu membangun tulang yang sehat. Kamu bisa memulainya dengan mengonsumsi makanan tinggi kalsium (susu, keju, yoghurt, sayuran hijau), vitamin D (paparan sinar matari selama 30-60 menit dan suplemen) dan protein.

Selain itu, lakukan aktivitas fisik yang aman dan teratur. Batasi asupan kafein, seperti teh dan minuman bersoda. Bagi Anak-anak dengan osteoporosis remaja disarankan untuk melakukan tes kepadatan tulang minimal 2 tahun sekali hingga usia dewasa.

Nah, berdasarkan informasi di atas, tentunya Teman Sehat jadi lebih memahami tentang osteoporosis remaja, kan? Pastikan berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kondisi, ya. Semoga bermanfaat! Jangan lupa bagikan artikel ini ke orang terdekatmu, ya!

Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.