Teman Sehat, pandemi Covid-19 membuat segala interaksi “dipaksa” menjadi online, terkecuali dunia usaha. Pertumbuhan ekonomi bahkan di ambang resesi, tapi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih semangat mencari cara memuaskan pelanggan di zaman sekarang. Mau tahu bagaimana caranya? Yuk, simak!
Jangan-jangan kamu UMKM

Sering lihat IG story teman yang sedang berjualan makanan ringan atau bahkan reseller pakaian? Nah, buat yang asetnya ngga sampai Rp 50 juta dan keuntungan kotor (omzet) setahunnya ngga sampai Rp 300 juta, dinamakan usaha mikro. Kriteri ini termasuk kriteria UMKM, loh!
Usaha yang dilakukan
Usaha ini bisa ditemui diberbagai bidang, seperti penjual buah eceran, distributor kripik, penyedia food court, bahkan industri kain yang belum bisa naik tingkat menjadi usaha kecil maupun menengah. Maka tak heran jumlah usaha mikro di Indonesia mencapai 60an juta unit (98,7%) jumlah usaha keseluruhan.

Usaha mikro juga bisa menyerap sampai 89,2% tenaga kerja. Penurunan pendapatan yang bisa menyebabkan pengangguran melimpah, akibat bangkrutnya beberapa usaha mikro.
Bukan menunggu, tapi mendatangi pelanggan
Beberapa program dan bantuan sudah dicanangkan oleh pemerintah. Namun, belum cukup mendatangkan pelanggan ke toko. Peluang muncul saat orang-orang semakin aktif secara online. Berbagai promosi dan diskon barang dipaparkan di media sosial dengan mudahnya untuk menarik minat pelanggan.

Transaksi online atau e-commerce pun meningkat di beberapa marketplace, seperti Bukalapak, Tokopedia, Shoope, dan lainnya. Pelanggan dimanjakan dengan berselancar di layar gawai dan pesanan bisa datang ke rumahnya. Peluang ini masih bisa dimaksimalkan, karena baru 8 juta pelaku UMKM yang mulai menggunakan fitur e-commerce. Hal ini membuat perlunya pelatihan dan pendampingan UMKM dari ahlinya.
Penggunaan e-commerce pada UMKM

Penelitian di Padang menunjukkan bahwa, penggunaan e-commerce secara signifikan bisa menambah pendapatan UMKM. Sehingga pelaku UMKM bisa memenuhi kebutuhan konsumen untuk menjaga diri dari bahaya COVID-19. Nah, hal ini bisa mengubah perilaku konsumsen yang dulunya ‘mendatangi’ menjadi ‘didatangi’ toko melalui gawai. Kamu tertarik mencobanya?
Teman Sehat, era globalisasi yang disertai pandemi membuat Indonesia perlu banyak belajar dan cepat menanggapi situasi. Hal ini disebabkan padasetiap musibah pasti ada jalan keluarnya, salah satunya dengan memanfaatkan e-commerce. Yuk, tetap semangat! Jangan lupa bagikan artikel ini, ya!
Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP
