Yuk Kurangi Jejak Karbon dari Makanan dengan Cara Ini!

Halo Teman Sehat! Tahukah kamu kalau makanan turut berkontribusi dalam menyumbang jejak karbon? Jejak karbon dari produk makanan adalah jumlah total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh makanan selama siklusnya mulai dari produksi hingga menjadi limbah. Emisi gas rumah kaca ini berdampak pada lingkungan dengan turut berperan dalam perubahan iklim. Lalu gimana cara menguranginya? Ini dia cara kamu berkontribusi dalam mengurangi jejak karbon yang dihasilkan dari makanan.

Sumber: https://www.pexels.com/

Meminimalisir sisa makanan

Mengurangi sisa makanan atau food waste bisa menjadi cara mudah untuk mengurangi jejak karbon dari makanan. Sisa makanan yang dibuang menghasilkan gas metana saat tertimbun di tanah yang turut berkontribusi pada pemanasan global. Pembuangan makanan atau food waste secara global menghasilkan sekitar 4,4 giga ton karbondikosida (CO2) atau 8% dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan manusia loh! Jadi, mulai sekarang usahakan untuk tidak menyisakan makanan ya!

Bijak dalam membeli makanan

Sumber: google.com

Seperti yang udah dijelaskan sebelumnya, sisa makanan dapat berkontribusi dalam menghasilkan karbon. Oleh karena itu, bijak dalam membeli makanan dapat turut membantu untuk mengurangi jejak karbon dari makanan. Saat membeli dan mengolah makanan, cukup seperlunya aja, agar bisa meminimalisir bahan makanan yang terbuang.

Mengonsumsi makanan lokal

Cara lain yang dapat Teman Sehat terapkan adalah dengan mengonsumsi makanan lokal. Kenapa hal ini bisa membantu? Makanan lokal akan menghasilkan lebih sedikit jejak karbon karena perjalanan dari produsen ke konsumen yang lebih dekat. Berbeda dengan bahan makanan yang diperoleh dari luar daerah atau bahkan luar negeri yang tentu membutuhkan lebih banyak bahan bakar transportasi dalam pendistribusiannya. Nah, transportasi yang digunakan ini tentunya menghasilkan karbon. Oleh karena itu, makanan lokal menghasilkan lebih sedikit karbon karena jarak tempuhnya yang lebih dekat.

Hindari penggunaan plastik

Sumber: https://www.pexels.com/

Plastik sangat banyak dijumpai di kehidupan sehari-hari, termasuk saat membeli bahan makanan di pasar ataupun supermarket. Emisi gas yang dihasilkan dari plastik setara dengan 1,8 miliar metrik ton CO2 pada 2015. Tips ramah lingkungan yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi penggunaan plastik  pada makanan adalah:

  • Membawa tas belanja sendiri saat berbelanja
  • Membawa botol minum saat bepergian
  • Menyimpan makanan dalam wadah gelas
  • Mengurangi membeli makanan berkemasan styrofoam

Perbanyak konsumsi buah dan sayur

Studi di Amerika menunjukkan bahwa diet yang kaya serat dan vitamin E, serta rendah natrium dan asam lemak jenuh ternyata merupakan pola diet yang rendah emisi gas rumah kaca. Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan produksi emisi gas rumah kaca dari proses produksi daging dan produk susu adalah sekitar 14,5%. Mengurangi daging dan produk susu dan beralih pada makanan berbasis nabati diperkirakan bisa mengurangi jejak karbon.

Nah, Teman Sehat, itu dia beberapa cara yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengurangi jejak karbon dari makanan. Jika semakin banyak orang yang melakukannya, tentu hal ini akan berdampak besar bagi kelangsungan bumi kita. Yuk, mulai dengan hal sederhana! Salah satunya dengan membagikan tulisan ini ke orang-orang terdekat kamu.

Editor & Proofreader: Fhadilla Amelia, SGz

Referensi

Food wastage footprint. Impacts on natural resources. Summary Report. http://www.fao.org/3/i3347e/i3347e.pdf Diakses pada 18 Januari 2021

Food wastage footprint and Climate Change. http://www.fao.org/3/a-bb144e.pdf Diakses pada 18 Januari 2021.

Reducing your carbon footprint can be good for your health. A list of mitigating actions. https://www.who.int/world-health-day/toolkit/dyk_whd2008_annex1.pdf Diakses pada 26 Januari 2021.

Plastic’s carbon footprint. https://www.sciencedaily.com/releases/2019/04/190415144004.htm  Diakses pada 26 Januari 2021.

Carbon footprint of self-selected US diets: nutritional, demographic, and behavioral correlates. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6408204/ Diakses pada 26 Januari 2021.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.