6 Fakta tentang “Aphasia”, Penyakit Perusak Kemampuan Bahasa

aphasia

Halo Teman Sehat! Pernahkah kamu mendengar istilah “aphasia“?

Memang, istilah ini jarang didengar. Tapi, sekarang adalah saat yang tepat bagi kamu untuk kenalan dengan penyakit gangguan otak ini.

Pernahkah kamu merasa kesulitan mengungkapkan suatu kata-kata atau kalimat? Atau pernahkah kamu menjumpai orang di sekelilingmu yang selalu sulit mengekspresikan kata-kata saat berkomunikasi?

Sebagian besar kita mungkin menganggapnya biasa, namun mulai sekarang kamu harus waspada. Ternyata ada jenis penyakit gangguan otak yang merusak kemampuan berbahasa.

Ya benar, penyakit itu bernama aphasia

Aphasia adalah sebuah sindrom pada sistem saraf yang merusak kemampuan berbahasa. Orang yang menderita penyakit ini akan mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pikiran dan sulit memahami serta menemukan kata-kata yang tepat sekaligus familiar saat berkomunikasi.

6 fakta penting tentang aphasia

aphasia

Buat kamu yang penasaran, berikut beberapa deskripsi maupun fakta yang lebih lengkap tentang penyakit ini.

  1. Biasanya, aphasia akan terjadi secara tiba-tiba dan mendadak setelah pengidapnya mengalami stroke atau cedera pada kepala
  2. Efek jangka panjang dari penyakit ini adalah membuat pengidapnya menjadi bisu bahkan pikun. Tidak hanya itu, penyakit ini juga dapat berkembang menjadi permasalahan dalam perilaku dan psikologis dari pengidapnya
  3. Gejalanya? Sering mengekspresikan kata-kata yang tidak dikenali, sulit memahami pembicaraan orang lain, sering menafsirkan bahasa kiasan, tidak menggunakan kalimat lengkap dalam berbicara, dan sering menggunakan kalimat tidak masuk akal baik ketika membaca maupun menulis
  4. Penyakit ini timbul akibat penyusutan pada lobus frontal dan temporal pada otak, khususnya pada sisi kiri bagian otak. Hal ini akan mempengaruhi pusat bahasa yang ada dalam otak sehingga berakibat pada gangguan komunikasi baik pemahaman maupun ekspresi. Penyakit ini juga bisa terjadi akibat cedera otak yang berakibat pada kerusakan beberapa bagian di otak. Faktor lain yang juga dapat berpengaruh terhadap timbulnya aphasia adalah mutasi gen tertentu yang bersifat keturunan
  5. Cara memastikan apakah seseorang mengidap penyakit aphasia atau tidak, ialah dengan beberapa metode, seperti tes darah, tes genetik, dan tes pencitraan
  6. Pengobatan yang memungkinkan dari seorang yang mengidap aphasia adalah dengan melakukan terapi bicara. Jenis terapi ini biasanya dilakukan untuk memulihkan kemampuan berbahasa

Hal yang perlu digarisbawahi adalah gangguan berbicara tidak selamanya merupakan penyakit aphasia. Tapi, tidak ada salahnya kita memeriksakan diri kita sendiri atau menyarankan rekan-rekan terdekat kita yang memiliki ciri-ciri penyakit berbahaya ini. Segera melakukan terapi wicara maupun metode pengobatan lainnya adalah lebih tepat daripada tidak sama sekali.

Bagaimana pendapatmu Teman Sehat? Yuk, tulisskan di kolom komentar! (agt&don)

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.