Tindihah saat Tidur, Simak Penjelasan Ilmiahnya!

Teman Sehat, hampir setiap orang pernah merasakan tindihan saat bangun tidur. Ngga sedikit masyarakat yang mengaitkan fenomena tindihan dengan hal-hal mistis. Jadi, apa sih sebenarnya tindihan itu? Yuk simak penjelasan ilmiahnya di sini!

Tindihan dari sudut pandang ilmiah

Di bidang medis, tindihan termasuk kondisi gangguan tidur yang disebut sleep paralysis. Kelumpuhan tidur atau sleep paralysis merupakan suatu kondisi yang dicirikan dengan hilangnya kontrol otot secara singkat. Kondisi hilangnya kontrol pada otot sendiri disebut atonia. Kelumpuhan tidur terjadi tepat setelah tidur atau saat terbangun dari tidur. Selain atonia, orang yang mengalami sleep paralysis terkadang juga mengalami halusinasi.

Kelumpuhan tidur umumnya terjadi pada fase tidur REM (Rapid eye movement). Kelumpuhan saat tidur ini masuk ke dalam kategori parasomnia. Parasomnia sendiri merupakan perilaku abnormal yang terjadi saat tidur. Nah, karena kelumpuhan tidur terjadi pada fase tidur REM, maka kondisi ini disebut sebagai parasomnia REM.

Apa yang terjadi selama kelumpuhan tidur?

Umumnya, saat masuk ke dalam siklus tidur REM, kamu akan melihat mimpi secara jelas disertai dengan kondisi atonia. Kondisi atonia dalam fase REM ini sebenarnya secara alami terjadi agar kamu ngga melakukan tindakan-tindakan yang terjadi di dalam mimpimu, loh! Oleh karena atonia akan berakhir saat kamu terbangun dari tidur.

Young deprived sleeping woman lying asleep on sofa, close up Free Photo
sumber: freepik.com

Penjelasan di atas merupakan kondisi normal saat kamu tidur. Nah, jika tiba-tiba terbangun dari tidur pada saat memasuki fase REM, maka kamu akan merasakan kelumpuhan saat terbangun yang berlangsung beberapa detik sampai menit. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai tindihan oleh kebanyakan orang dan tentunya membuat bingung serta memicu respon panik.

Faktor risiko sleep paralysis

Sleep paralysis sangat umum terjadi, baik pada perempuan maupun laki-laki. Gangguan ini pertama muncul umumnya pada usia 14-17 tahun. Beberapa faktor risiko sleep paralysis diantaranya:

  1. Kurang tidur
  2. Jadwal tidur yang sering berubah
  3. Gangguan kesehatan mental
  4. Sering terjadi saat tidur dalam posisi telentang
  5. Gangguan bipolar
  6. Penggunaan obat-obatan tertentu
  7. Kram kaki

Do dan don’t untuk mencegah sleep paralysis

Inilah hal-hal yang perlu kamu lakukan untuk mencegah sleep paralysis:

  1. Tidur secara teratur 6-8 jam per hari
  2. Tidur di waktu yang sama setiap malam dan bangun di waktu yang sama setiap pagi
  3. Lakukan olahraga teratur tetapi sebaiknya jangan melakukannya 4 jam sebelum tidur

Hal-hal yang ngg boleh dilakukan diantaranya:

Indoor shot of brunette young woman lying in white bed, touching face, having bad headache after night party, waking up in the morning with hangover. selective focus on hand holding bottle of wine Free Photo
sumber: freepik.com
  1. Jangan makan dalam porsi besar, meminum alkohol, dan minuman berkafein sebelum tidur
  2. Hindari tidur telentang

Teman Sehat, fenomena tindihan sangat bisa dijelaskan secara ilmiah. Tips-tips di atas juga dapat dilakukan untuk mencegah gangguan tidur ini. Jangan lupa share info ini ke orang terdekatmu, agar ngga cuma berhenti di kamu! Salam sehat!

Editor & Proofreader: Mega Kurniawati, SGz

Referensi

What You Should Know About Sleep Paralysis. https://www.sleepfoundation.org/parasomnias/sleep-paralysis. Diakses 6 Juni 2021

Sleep Paralysis. https://stanfordhealthcare.org/medical-conditions/sleep/nighttime-sleep-behaviors/sleep-paralysis.html. Diakses 6 Juni 2021

What is sleep paralysis? https://sleepeducation.org/sleep-disorders/sleep-paralysis/. Diakses 6 Juni 2021

Sleep paralysis. https://www.nhs.uk/conditions/sleep-paralysis/. Diakses 6 Juni 2021

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.