Teman Sehat, hidup di tengah-tengah pentingnya status sosial seperti sekarang ini membuat ngga sedikit masyarakat berlomba-lomba untuk menunjukkan kebahagiannya di media sosial. Mengunggah foto dengan senyum lebar nan memesona, membuat orang lain menilai kamu sebagai orang yang paling bahagia di dunia, bukan? Tapi, apakah kamu yakin usaha tersebut benar-benar membuat kamu bahagia? Jangan-jangan kamu sedang mengalami smiling depression? Apa sih smiling depression itu? Yuk, simak penjelasannya di sini!
Pengertian smiling depression
Secara umum kondisi depresi ditandai dengan gejala lemas, lesu, ngga bersemangat, dan ngga bergairah dalam hidup. Tetapi kondisi sebaliknya justru terjadi pada orang yang menderita smiling depression.
Smiling depression diartikan sebagai kondisi seseorang yang hidup dalam kondisi depresi, namun secara fisik kehidupannya terlihat sangat sempurna. Gangguan ini biasanya terjadi pada kelompok masyarakat yang memiliki ekonomi mapan, berpenghasilan menengah ke atas, serta berpendidikan tinggi, loh !
Apa saja gejalanya?
Smiling depression terkadang ngga disadari oleh penderitanya. Penderita akan mengalami beberapa gejala depresi umum, seperti perubahan pola makan, tidur, dan berat badan. Selain itu, sebagian orang juga mudah merasa lelah dan lesu, serta kehilangan semangat dan ngga percaya diri.
Meskipun demikian, penderita smiling depression ngga akan sepenuhnya menunjukkan gejala tersebut di depan orang lain. Sebaliknya, publik melihatnya sebagai sosok yang penuh percaya diri, aktif, ceria, optimis dan menunjukkan manfaat dan keberadaannya dalam lingkungan sosial.
Kondisi smiling depression juga diperkuat oleh anggapan pribadi, bahwa penderita ngga ingin merepotkan siapapun, takut ngga diterima dengan berbagai masalah dan kondisinya, atau takut ngga didengarkan. Orang dengan smiling depression memiliki energi yang tinggi sehingga ngga jarang tercetus keinginan untuk mengakhiri hidup.
Faktor yang memengaruhi
Terdapat banyak faktor risiko penyebab munculnya smiling depression, antara lain:
Perubahan gaya hidup yang signifikan
Situasi sangat memengaruhi kondisi mental seseorang. Perubahan gaya hidup yang mendadak seperti kegagalan dalam rumah tangga, kehilangan pekerjaan, perubahan penghasilan mampu mengakibatkan seseorang mengalami depresi, tapi ngga ingin ditunjukkan ke publik.
Penilaian orang lain
Terdapat beberapa anggapan di masyarakat dalam memberikan sikap terhadap suatu permasalahan yang telah mengakar dan menjadi budaya, seperti “jangan terlalu dipikirkan”, “laki-laki ngga boleh menangis”, dan lain sebagainya. Hal demikian membuat seseorang yang sedang mengalami permasalahan psikis enggan untuk berbagi karena takut ngga mendapatkan respon yang baik.
Media sosial
Sebagian besar orang enggan untuk membagikan permasalahannya ke media sosial. Mereka lebih memilih selalu menunjukkan hal-hal yang membahagiakan sehingga dunia melihat bahwa hidupnya sungguh sempurna dan segalanya berjalan dengan baik dan bahagia. Konsep inilah yang turut melahirkan orang dengan gangguan mental ini.
Ekspektasi
Setiap orang memiliki ekspektasi yang lebih untuk diri mereka yang berasal dari diri sendiri maupun orang lain. Orang-orang menyimpan ekspektasi tentang kamu mungkin melebihi realitas yang bisa dilakukan. Oleh karena itu, ekspekrasi menjadi beban sehingga mau ngga mau kamu harus memaksakan diri agar dapat sesuai dengan ekspektasi orang-orang.
Smiling depression bukan termasuk kelainan yang ngga dapat disembuhkan ya! Gangguan ini bisa diatasi dengan keterbukaan, loh! Jika orang yang kamu kenal enggan untuk menceritakan permasalahannya, maka kamulah yang perlu memulai untuk lebih peduli dan menjadi pendengar yang baik.
Tunjukkan rasa empati kamu dan jadilah orang yang dapat mereka percayai. Jangan pernah menjauhi kerabat yang terindikasi mengalami smiling depression. Tetap dampingi dan bantu mereka untuk dapat lebih terbuka ya, Teman Sehat! Share informasi ini ke orang-orang sekitar kamu!
Editor & Proofreader: Mega Kurniawati, SGz

