Halo Sahabat Sehat! Tahukah kamu apa itu fortifikasi pangan? Biasanya kata ‘fortifikasi’ bisa kamu jumpai pada kemasan margarin, minyak goreng atau dalam produk pangan olahan lainnya. Tapi untuk apa sih, sebenarnya fortifikasi pada pangan? Kemudian, arti dari fortifikasi pangan sendiri itu seperti apa? Daripada kamu semakin penasaran, yuk coba cek artikel ini untuk tahu jawabannya!

Fungsi Fortifikasi
Fortifikasi merupkan upaya yang sengaja dilakukan untuk menambahkan zat gizi mikro, baik berupa vitamin maupun mineral ke dalam pangan, sehingga dapat meningkatkan kualitas gizi dari pangan tersebut. Ini juga ditujukan supaya pangan yang dikonsumsi bisa bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Fortifikasi pangan digunakan untuk mengatasi masalah gizi mikro pada jangka pendek hingga jangka panjang. Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang memiliki dua beban permasalahan gizi, yaitu kelebihan serta kekurangan zat gizi makro dan mikro. Maka, fortifikasi bisa menjadi metode alternatif penanganan permasalahan gizi karena dinilai cukup strategis, praktis, ekonomis, dan efektif. Langkah intervensi ini bisa menjamin keamanan pangan, serta dapat menjadi rencana berkelanjutan.
Memperbaiki Konsumsi Zat Gizi Mikro
Kekurangan zat gizi mikro bisa mempengaruhi perkembangan otak, kecerdasan, serta perkembangan fisik berupa terhambatnya pertumbuhan dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Dalam jangka panjang bisa berakibat pada menurunnya fungsi sistem kekebalan tubuh sehingga lebih mudah terkena penyakit. Selain itu, ini juga berisiko menimbulkan penyakit degeratif seperti diabetes, jantung, dan stroke.
Oleh karena itu, diharapkan dengan adanya fortifikasi pada pangan, efektifitas konsumsi masyarakat terhadap zat gizi mikro bisa menjadi lebih baik. Selain pada pangan, program fortifikasi juga bisa melalui suplementasi pada kapsul vitamin A yang ditujukan untuk bayi dan balita, tablet tambah darah bagi ibu hamil dan remaja putri, serta pangan tambahan untuk balita, anak usia sekolah, dan ibu hamil.
Ragam Pangan Fortifikasi

Di Indonesia, program fortifikasi pangan telah berjalan, seperti pada pemberian iodium KIO3 30 ppm pada garam untuk menghindari kekurangan iodium atau penyakit gondok; fortifikasi tepung terigu yang menambahkan zat besi, asam folat, vitamin B1 dan B2 untuk mengatasi anemia; serta fortifikasi minyak goreng sawit dengan tambahan vitamin A. Selain ketiga pangan tersebut yang wajib di fortifikasi, masih ada pangan jenis lainnya yang difortifikasi secara sukarela, seperti telur yang diberi tambahan omega-3, susu yang diberi tamabahan vitamin dan mineral, dll.
Fortifikasi pangan memang memiliki manfaat baik bagi pengendalian masalah gizi, tetapi kesadaran setiap individu untuk memenuhi kebutuhan tubuh masing-masing jauh lebih baik. Jadi jangan lupa untuk selalu mengonsumsi gizi seimbang setiap hari, ya Sahabat Sehat! Salam sehat!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
