Teka-Teki Suplementasi Zat Besi pada Anak

Zat besi merupakan salah satu mineral esensial yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menjalankan berbagai peran fisiologis, yaitu membentuk sel darah merah, regulasi gen, sintesis DNA, perbaikan DNA, dan perkembangan fungsi otak.

Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan anemia yang terjadi akibat kurangnya cadangan zat besi untuk membentuk haemoglobin (Hb) sehingga pembentukan Hb yang ngga sempurna menyebabkan ukuran sel darah merah lebih kecil (mikrositik) dan mengandung lebih sedikit Hb.

Dengan adanya kondisi ADB, maka organ dan jaringan dalam tubuh ngga mampu mendapatkan asupan oksigen yang adekuat. Tanda klinis yang dijumpai pada ADB antara lain rasa lelah, penurunan produktivitas, dan daya tahan tubuh.

ADB menjadi masalah kesehatan yang serius pada bayi dan anak, khususnya di negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 di Indonesia menunjukkan prevalensi ADB pada bayi usia 0-6 bulan (61,3%), bayi 6-12 bulan (64,8%) hingga anak balita (48,1%).  Sedangkan data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 melaporkan angka kejadian ADB pada anak usia 12-59 bulan sebesar 28,1%.

kebutuhan zat besi pada anak
Foto: Pexels.com

Sumber Zat Besi dari Makanan

Zat besi yang diperoleh dari makanan, ditemukan dalam dua bentuk yaitu heme dan nonheme. Zat besi heme lebih cepat terserap oleh tubuh, yang terkandung di dalam makanan hewani yaitu daging merah, unggas, dan ikan.

Sedangkan, zat besi nonheme dijumpai dalam sayuran hijau (bayam, kale, dan brokoli), kacang-kacangan (polong dan kedelai), dan makanan fortifikasi (biji-bijian, susu formula, dan sereal). Sebagian besar zat besi nonheme kurang dapat diserap dengan baik oleh tubuh.

Mengapa Butuh Suplementasi Besi?

Bayi dan anak merupakan masa vital perkembangan fisik dan kognitif serta usia yang berisiko tinggi mengalami defisiensi zat besi. Defisiensi besi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain meningkatnya kebutuhan zat besi untuk proses tumbuh kembang dan eritropoiesis, murangnya asupan zat besi dari makanan, kandungan kalsium dalam susu sapi dapat menghambat penyerapan zat besi, dan perdarahan di saluran cerna akibat infeksi parasit.

suplementasi zat besi pada anak
Foto: Freepik.com

Anjuran suplementasi zat besi bisa dilakukan setelah melakukan pemeriksaan zat besi dalam darah, misalnya pengecekan kadar serum ferritin (<20 µg/L) yang menggambarkan deplesi zat besi. Pemberian zat besi dalam jumlah tinggi juga dapat membahayakan kesehatan anak.

Selain itu, pemeriksaan lain yang dibutuhkan berupa data usia anak, status kesehatan, perjalanan anemia, dan riwayat pengobatan.

Bagaimana Petunjuk Pemberian Zat Besi pada Anak?

Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, anjuran suplementasi zat besi dibagi berdasarkan usia anak, dosisnya sebagai berikut:

UsiaDosis Besi ElementalBentuk SediaanFrekuensi PemberianLama Pemberian
6-23 bulan10-12,5 mgDrop/sirupSetiap hari3 bulan berturut-turut selama 1 tahun
24-59 bulan30 mgDrop/sirup/tabletSetiap hari3 bulan berturut-turut selama 1 tahun
5-12 tahun30-60 mgTablet/kapsulSetiap hari3 bulan berturut-turut selama 1 tahun

Sahabat Sehat, suplementasi zat besi yang optimal menjadi jembatan penting bagi orang tua untuk memastikan kecukupan gizi harian anak agar terpenuhi sehingga perkembangan fungsi motorik dan pembentukan sel saraf di otak juga akan maksimal.

Editor &  Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

WHO. 2016. Guideline Daily Iron Supplementation. https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/204712/9789241549523_eng.pdf Diakses pada 20 Juli 2021

American Family Physician. 2016. Iron Deficiency and Other Types of Anemia in Infants and Children. https://www.aafp.org/afp/2016/0215/p270.html Diakses pada 20 Juli 2021

Depkes RI. 2001. Laporan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), Jakarta: Depkes RI

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI. 2013. Laporan Riskesda 2013. Jakarta: Badan Litbangkes

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.