Sahabat Sehat, tanggal 5 Desember diperingati sebagai Hari Tanah Sedunia. Tahun ini peringatan Hari Tanah Sedunia mengusung tema “Tanah: Dimana Makanan Bermula”. Penurunan nutrisi tanah menjadi masalah yang perlu diperhatikan karena berkaitan dengan keamanan dan keberlanjutan pangan di seluruh dunia. Mengapa demikian? Yuk, simak penjelasannya di sini!
Pengaruh tanah terhadap kesehatan
Tanah dan air menjadi dua komponen utama yang menjadi sasaran pencemaran dan berisiko berdampak fatal pada kesehatan manusia. Jika pencemaran terjadi dan masuk ke dalam rantai makanan, maka menyebabkan gangguan kesehatan dan penyakit bagi manusia di mana manusia berperan sebagai konsumen terakhir.

Berbagai aktivitas manusia penyumbang kontaminan paling banyak di tanah, antara lain proses industri, pertambangan, obat-obatan manusia dan hewan, serta limbah rumah tangga.
Terdapat kontaminan utama di tanah yaitu logam berat dan bahan kimia organik sintesis. Di sisi lain, terdapat kontaminan biologis, seperti patogen dan parasit. Kesehatan tanah merupakan kunci fungsi ekosistem untuk mempertahankan aktivitas biologis, meningkatkan kualitas udara, lingkungan, dan air, serta menjaga kesehatan tanaman, hewan, dan manusia.
Bagaimana ciri tanah sehat?
Terdapat lima fungsi esensial Tanah Sehat menurut United States Department of Agriculture (USDA), dua di antaranya langsung berhubungan dengan kesehatan manusia. Fungsi esensial pertama yaitu menyaring dan menyangga polutan tanah yang potensial, artinya terdapat mikroorganisme dan mineral di dalam tanah yang berfungsi menyaring, menyangga, mendegradasi, mematikan, mendetoksifikasi bahan organik dan anorganik di dalam tanah yang dihasilkan dari aktivitas alam dan manusia.
Fungsi esensial yang kedua yaitu menyimpan, mengubah, dan mendistribusikan nutrisi, artinya terdapat berbagai nutrisi tanah, seperti karbon, nitrogen, fosfor, dan lainnya yang mengalami siklus dan didaur ulang di dalam tanah.
USDA juga menentukan cara mengatur dan merawat tanah agar baik untuk kesehatan. Caranya, yakni dengan maksimalkan jumlah akar tanaman hidup, minimalisir gangguan/cemaran, maksimalkan keberadaan lapisan tanah atas, dan maksimalkan biodiversitas.
Kondisi tanah di Indonesia
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, nilai IKLH Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) tahun 2021 mencapai 71,43 yang mana melebihi target awal yaitu 68,96. Nilai ini juga mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar 1,16 poin. Komponen IKLH dinilai dari 4 indeks yaitu Indeks Kualitas Air (IKA), Indeks Kualitas Udara (IKU), Indeks Kualitas Lahan (IKL), Indeks Kualitas Ekosistem Gambut (IKEG) – khusus bagi provinsi yang memiliki lahan gambut, dan Indeks Kualitas Air Laut.

Peningkatan nilai tersebut disebabkan karena adanya peningkatan khususnya pada IKU dan IKAL. Sementara IKL dan IKEG yang berhubungan dengan kondisi tanah tidak mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Terdapat 28 provinsi Indonesia yang berhasil mencapai target IKLH, sedangkan 6 provinsi lainnya tidak mencapai target.
Sahabat Sehat, peringatan Hari Tanah Sedunia kali ini ditujukan untuk meningkatkan kepedulian tentang pentingnya memelihara ekosistem yang sehat dan kesejahteraan umat manusia dengan cara pengelolaan tanah dengan cara meningkatkan kesadaran dan mendorong kesadaran masyarakat dalam peningkatan kesehatan tanah. Jangan lupa bagikan informasi ini ke orang-orang sekitar kamu ya!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

