Sahabat Sehat, pernahkah kamu kaget atau heran dengan perilaku anak jahil kepada temannya? Wajar jika perilakunya masih dapat dimaklumi, namun harus segera ditangani jika melampaui batas. Perilaku anak yang tak mampu mengontrol emosi, seperti agresif, kasar, tidak mengikuti aturan, dan tidak segan melukai orang lain perlu diwaspadai. Tindakan tersebut mencerminkan gangguan perilaku, yaitu conduct disorder. Kondisi ini banyak dijumpai pada anak dan remaja berusia 9 hingga 17 tahun.

Bagaimana Ciri Conduct Disorder?
Berdasarkan buku “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR)” oleh American Psychiatric Association, karakter umum anak yang mengalami conduct disorder adalah kurangnya rasa empati, tidak toleransi, dan tidak peduli dengan lingkungan. Emosinya juga tidak terkontrol yang membuatnya berperilaku keras, agresif, dan merusak. Penderita mudah marah dan sulit menahan keinginannya akan sesuatu.
Ciri pertama adalah perilaku agresif yang melukai atau mengancam keselamatan orang lain maupun hewan. Anak kerap melakukan kekerasan, baik fisik, maupun verbal, kepada orang lain atau hewan. Perilaku tersebut meliputi mengejek atau melakukan perundungan, bersikap jahil, berkelahi.
Kedua, perilaku merusak dengan sengaja, seperti melempar dan merusak barang ketika marah, vandalisme, hingga merusak atau membakar benda milik orang lain atau publik. Ketiga, perilaku bohong, memperdaya, atau mencuri, seperti mengutil atau berbohong demi melepaskan diri dari tanggung jawab.
Keempat, perilaku pelanggaran aturan dan norma. Penderita sulit mengikuti peraturan. Kenakalan yang ditimbulkan melebihi kenakalan anak pada umumnya. Anak tersebut juga sering membantah atau melawan orang lain, misalnya kakak, orang tua, dan guru di sekolahnya. Beragam peraturan di sekolah atau di rumah juga sering dilanggar, seperti bolos sekolah, prank, berbuat onar, merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, dan menggunakan narkoba. Anak sangat susah diatur karena menginginkan hal sesuai keinginannya, seperti bermain game atau gadget sesuka hati, atau pergi dengan teman tanpa mengenal waktu.
Penyebab Conduct Disorder
Meskipun belum diketahui secara pasti penyebabnya, terdapat beberapa faktor risiko seorang anak mengalami conduct disorder. Pertama, anak memiliki masalah kesehatan atau kondisi medis tertentu sejak dalam kandungan sampai setelah dilahirkan yang berpengaruh meningkatkan risiko gangguan perilaku. Hal tersebut dipicu gangguan kesehatan ibu hamil, kekurangan gizi, kelahiran prematur, atau ada gangguan otak anak. Kondisi ini juga bisa terjadi akibat melakukan kebiasaan tak sehat saat hamil, seperti merokok, konsumsi minuman beralkohol, atau obat terlarang.
Kedua, pola asuh yang tidak baik atau hubungan keluarga yang tidak harmonis memicu gangguan perilaku anak. Ketiga, adanya riwayat keluarga dengan kondisi serupa atau genetik. Jika salah satu anggota keluarga ada yang mengalami gangguan psikis, gangguan kepribadian, gangguan penggunaan zat, maka lebih berisiko. Keempat, akibat faktor sosial, yaitu tindakan ini muncul ketika anak merasa direndahkan karena status maupun kondisi sosial.
Penanganan Conduct Disorder
Dengan mengenali cirinya, kamu tidak akan terlambat menangani conduct disorder pada anak. Jika anak mempunyai tiga dari keseluruhan ciri perilaku di atas selama lebih dari enam bulan, maka segeralah bawa ke psikolog anak untuk dievaluasi lebih dalam. Pengobatan umumnya dilakukan dengan obat-obatan, psikoterapi, serta terapi keluarga (meningkatkan hubungan anak dan keluarga).
Sebuah gangguan perilaku tentu saja berisiko jika tidak segera ditangani atau terlambat ditangani. Jika tidak, gangguan perilaku ini menyebabkan si kecil bermasalah di sekolahnya atau lingkungan pertemanannya, dan berpotensi besar akan terbawa hingga dewasa. Kelak, anak akan rentan melakukan hal menyimpang, seperti mencederai orang lain dengan kekerasan.

