Sepenting Ini Beras untuk Indonesia

Belum makan namanya, kalau belum makan nasi!. Walau udah makan singkong rebus, jagung bakar, roti atau kentang goreng, bagi orang Indonesia, itu belum dikategorikan makan, karena belum ada nasi yang berasal dari beras. Haha.

Emang sih, untuk orang Indonesia, beras adalah makanan paling penting dibanding makanan lain apapun di dunia. Sampai saat ini, Indonesia merupakan salah satu konsumen beras terbesar di dunia dengan konsumsi mencapai 98kg/tahun. Angka yang didapat dari Susenas 2015 ini hanya kalah oleh Myanmar, Vietnam dan Bangladesh.

Kalau dari data Survei Diet Total 2015, beras merupakan makan pokok utama bagi hampir seluruh penduduk Indonesia (97,7%).

Artinya, beras bukan lagi makanan pokok bagi orang Jawa dan Sumatera, tapi juga sudah makanan pokok bagi seluruh masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia timur sudah meninggalkan konsumsi sagu dan ubi sebagai makanan pokok. Begitu pula dengan masyarakat Madura yang tidak lagi menjadikan jagung sebagai sumber kalori utama.

Menurut lidah orang Indonesia, termasuk masyarakat Indonesia timur, beras memang lebih enak dibanding makanan pokok lainnya. Selain itu, pengolahan beras menjadi nasi yang siap santap emang relatif lebih mudah dan populer dibanding sagu, ubi, jagung atau singkong. Alasan lainnya adalah beras lebih mudah tersedia, baik dengan membudidayakan sendiri, membeli di pasar atau melalui beras subsidi. Konsumsi beras yang tinggi ini jelas meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Sebanyak 65-70% asupan kalori orang Indonesia berasal dari beras. Yang menarik, beras juga menyumbang asupan protein yang cukup besar yakni sekitar 23% dari kebutuhan protein. Memang sih, protein beras termasuk non-heme yang artinya lebih sukar diserap tubuh dibandin protein hewani. Itulah sebabnya kita tetap harus makan protein hewani.

Beras juga merupakan komoditas utama (di kategori pertanian dalam hal sumbangan untuk Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Selain itu, Lebih dari 60% penduduk Indonesia, terutama di pedesaan, terlibat dalam kegiatan usaha tani beras. Bahkan, Bank Dunia yang juga diikuti oleh Badan Pusat Statistik, menjadikan konsumsi beras sebagai salah satu indikator penting penentu status kemiskinan di Indonesia.

Walau konsumsinya banyak banget, produksi beras Indonesia dari petani dalam negeri masih belum swasembada, belum mampu penuhi kebutuhan sendiri. Impor ini dilaksanakan oleh Badan Urusan Logistik (Bulog). Bulog juga memiliki kewenangan untuk mengatur proses distribusi dan menjaga stabilitas harga beras di Indonesia. Tahun 2016 lalu, BPS mencatat Indonesia mengimpor beras sebanyak 1,6 juta ton dari Vietnam.

Pemerintah kita menggunakan dua cara untuk mencapai swasembada beras. Yang pertama, mendorong petani untuk meningkatkan produksi IPTEK, subsidi pupuk dan bibit unggul. Yang kedua, yang paling dekat dengan kita, yakni mengurangi konsumsi beras melalui kampanye “one day no rice”. Pemerintah juga berupaya mengurangi ketergantungan kepada beras dengan kembali mempopulerkan konsumsi makanan pokok lainnya seperti Jagung, Singkong dalam bentuk asli atau melalui implementasi beras analog.

Ada yang sudah mulai coba makan makanan pokok selain beras? bagaimana rasanya? sampaikan di kolom komentar ya!

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.