Penyimpanan ASI (Air Susu Ibu) dalam freezer jadi salah satu cara efisien dan fleksibel yang banyak dilakukan oleh para ibu agar si kecil selalu dapat konsumsi ASI, terlebih bagi ibu yang punya mobilitas tinggi. Lalu, bagaimana dengan ASI bubuk yang viral akhir-akhir ini yang dianggap jadi cara baru untuk simpan ASI lebih lama.
Selain sekadar disimpan di freezer atau lemari es, kini ada pengolahan ASI yang semula cair menjadi bentuk bubuk layaknya susu formula bubuk sapi. Hal ini termasuk hal baru baru dan masih awam di kalangan masyarakat. Simak penjelasan lebih lanjut dari hasil para peneliti.

Menilik Kandungan Energi dan Gizi ASI Biasa
Kementerian Kesehatan memberikan saran untuk memberikan ASI Ekslusif pada bayi usis 0-6 bulan. Selain itu, disarankan pula menyusui bayi selama 15 menit sehingga bayi bisa dapat total kurang lebih 190 ml ASI yang mana estimasi 5 menit pertama dapat lebih dari 100 ml ASI.
Dalam 100 ml ASI terkandung energi sebanyak 66 Kkal, protein 1 g, lemak 3,8 g, laktosa 7 g, kalsium 34 mg, phosphor 15 mg, vitamin A 58 μg, vitamin C 4 mg, dan zink 300 μg. Kandungan gizi tersebut tentu bermanfaat untuk tumbuh kembang bayi, nantinya ketika memasuki usia 6 bulan, pemenuhan kebutuhannya dibantu dengan MPASI.
Pembuatan Susu Bubuk
Pembuatan susu bubuk komersial umumnya menggunakan teknik vacum evaporation atau spray drying karena dalam industri termasuk metode yang tepat dan efisien dalam berbagai hal. Namun, metode tersebut memungkinkan kehilangan beberapa senyawa rasa alami dan denaturasi protein serum.
Oleh sebab itu, ada penelitian yang menggunakan metode lain, yaitu freeze drying atau pengeringan beku yang mana salah satu kelebihannya adalah baik untuk menjaga kualitas makanan walaupun biayanya cukup tinggi. Lantas bagaimana jika metode tersebut diterapkan pada ASI?

Freeze Drying Apa Mengurangi Gizi ASI?
Faktanya, penelitian seputar freeze drying ASI sudah dilakukan sejak dahulu. Salah satunya, penelitian yang dilakukan pada 72 sampel freeze drying dalam International Journal of Food Sciences and Nutrition menunjukkan bahwa vitamin E, vitamin C, dan antioksidan menurun. Meskipun begitu, penurunanya lebih rendah dibandingkan dengan pembekuan susu segar. Namun, asam lemaknya tidak berubah.
Selain itu, penelitian dalam Journal of Perinatology (2024) menunjukkan bahwa freeze drying ASI dapat mengurangi ukuran gumpalan lemak, jumlah imunoglobulin, vitamin C, dan enzim. Selain itu, ketika ASI bubuk hasil freeze drying diberikan pada bayi prematur, menunjukkan adanya gangguan serum elektrolit.
Sementara itu, penelitian oleh Dávila-Caraballo et al. (2024) menunjukkan hasil berbeda. Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa pengawetan ASI dengan metode pembekuan ataupun freeze drying tidak memengaruhi komponen imunologi, karbohidrat, dan protein, sehingga memungkinkan untuk jadi metode untuk memperpanjang masa menyusui.
ASI bentuk bubuk mungkin berpotensial untuk kedepannya, memungkinkan anak yang secara khusus tidak dapat akses ASI bisa konsumsi ASI dalam periode yang lebih panjang. Namun, belum banyak penelitian yang dilakukan di Indonesia, penelitian lain juga sebatas observasional bukan intervensi pemberian ASI bubuk sehingga dampak konsumsinya pun belum jelas. Bagaimana menurut Sahabat Sehat?
