Delirium, Gejala baru Virus COVID-19

Teman Sehat, tahun 2020 sebentar lagi akan berakhir, tapi virus COVID-19 masih saja menghantui  seluruh dunia, bahkan korban yang ada terus berjatuhan. Baru-baru ini, muncul gejala baru yang disebabkan oleh COVID-19 yaitu delirium. Apa sih, delirium? Yuk simak penjelasannya di sini!

Katanya menyebabkan beberapa disfungsi,

Disfungsi atau ketidakmampuan tubuh untuk melakukan fungsinya, merupakah salah satu kondisi yang terjadi pada delirium. Selain itu, tubuh akan mengalami penurunan perhatian yang bahkan, bisa mengancam kehidupan seseorang.

Biasanya sindrom ini terjadi pada lansia yang berusia 65 tahun atau lebih. Sindrom ini juga menggambarkan gangguan mental atau cedera kepala pada seseorang. Banyak dokter yang terlewat mendiagnosanya, sehingga cukup menjadi permasalahan yang serius di dunia kesehatan.

Sindrom ini akan meningkat seiring dengan bertambahnya umur seseorang dan paling banyak terjadi saat hari awal perawatan di rumah sakit. Ternyata, sindrom ini juga berisiko meningkatkan kematian hingga 10 kali lipat dan memperpanjang masa perawatan di rumah sakit, loh!

Gejala yang ditimbulkan,

Jika seseorang mengalami sindrom delirium, terdapat beberapa ciri-ciri yang dialami, seperti penurunan untuk fokus, sulit berkonsentrasi, sehingga menyebabkan mudah marah, pembicaraan yang melompat-lompat hingga pola tidur yang berubah.

Gangguan ini, biasanya bersifat sementara dan terjadi secara mendadak. Perlu diingat, sindrom ini bukan sebuah penyakit tapi keadaan mental yang menunjukkan penurunan fungsinya.

Penyebabnya,

Ada beberapa penyebab seseorang mengalami delirium, di antaranya yaitu:

  1. Penggunaan obat-obatan tertentu
  2. Konsumsi alkohol
  3. Kondisi medis tertentu seperti stroke, penyakit jantung, penyakit hati, atau trauma akibat terjatuh
  4. Demam dan penyakit infeksi
  5. Adanya paparan racun seperti karbon monoksida dan sianida
  6. Akibat operasi

Penanganan yang dilakukan

Strategi penanganan sindrom ini, bisa dilakukan dengan strategi non farmakologis meupun farmakologis (penggunaan obat). Penangana non farmakologis dilakukan dengan memberikan saran mengenai perubahan perilaku seseorang.

Dalam penanganannya, tenaga kesehatan akan memberikan instruksi yang jelas dan sering membuat kontak mata dengan pasien. Hal ini dilakukan karena penderita sindrom ini akan mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan.

Selain itu, penanganan non farmakologis bisa dilakukan dengan pemberian perawatan seperti kondisi lingkungan yang tenang saat tidur,  hingga periode tidur yang ngga terganggu. Dalam penanganan tidur, seseorang yang menderita gangguan ini bisa diberikan segelas susu hangat, teh herbal, musik relaksasi maupun pijat punggung.

Bagaimana dengan penanganan secara farmakologis

Penanganan secara farmakologis biasanya jarang dilakukan, karena masih terdapat beberapa kontroversi. Obat-obat yang memengaruhi perubahan tingkah laku, bisa merubah mental pasien.

Ada beberapa jenis obat-obatan yang biasa digunakan yaitu golongan haloperidol, antipsikotik, dan benzodiazepine. Namun jenis obat-obatan ini akan memberikan efek samping yang cukup berbahaya bagi penderita gangguan ini.

Meskipun terlihat banyak dialami oleh lansia, tapi kamu perlu tetap waspada, ya! Perhatikanlah beberapa faktor yang bisa memicu terjadinya sindrom delirium. So, Teman Sehat, tetap jaga kesehatan dan utamakan protokol kesehatan, ya!

Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.