Fakta Infeksi HIV pada Perempuan

Halo Sahabat Sehat! Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh melalui kerusakan sel darah putih. Penegakan diagnosis infeksi HIV lebih awal akan membantu pengendalian infeksi lebih baik. Sayangnya, HIV yang tak mendapatkan perawatan dan pengobatan (ARV) justru bisa menyebabkan infeksi yang lebih berat, yaitu acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).

Menurut studi penelitian, infeksi HIV yang dijumpai pada manusia berasal dari semacam simpanse di Afrika Tengah di akhir tahun 1800-an. Penyebarannya kian meningkat hingga sampai di Amerika Serikat akhir tahun 1970. Daerah bagian Asia-Pasifik melaporkan 1,4 juta perempuan dari sekitar 3,08 juta orang dewasa yang terinfeksi HIV sejak akhir tahun 1970 sampai akhir tahun 1994.

hiv aids pada perempuan
Foto: Pexels.com

Sedangkan di Indonesia, data modeling AEM yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menunjukkan bahwa pada tahun 2021 terdapat sekitar 526.841 orang yang hidup dengan HIV, dengan kasus baru diperkirakan sebesar 27 ribu. Sebanyak 40% dari kasus baru infeksi HIV yang terdeteksi ditemukan pada perempuan.

Bagaimana perempuan bisa terinfeksi HIV?

HIV bisa ditularkan melalui beberapa cara, yaitu hubungan seksual per vaginal atau anal dengan berganti-ganti pasangan dan tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik bersama, dan kontak dengan cairan tubuh manusia (air mani, darah, air susu, cairan dubur, cairan vagina) tanpa alat pelindung diri yang aman (contohnya transfusi darah). HIV juga berisiko pada ibu ke anak selama masa kehamilan, melahirkan, dan menyusui.

Secara biologis, perempuan lebih rentan terpapar HIV daripada laki-laki, karena perempuan memiliki lebih banyak lendir yang terpapar virus ini saat berhubungan seksual. Selain itu, perempuan yang berusia di bawah 17 tahun juga diketahui berpotensi terinfeksi yang lebih besar akibat kondisi leher rahim yang belum berkembang dan produksi lendir vagina yang rendah.

Gejala yang perlu diwaspadai

Sebagian besar gejala HIV pada perempuan dan laki-lai adalah sama. Namun, ada tanda spesifik yang hanya bisa ditemui pada perempuan.

mengapa perempuan lebih berisiko terkena hiv?
Foto: Pexels.com

Pertama, perubahan siklus atau periode haid yang diduga karena efek virus terhadap hormon. Gambarannya yang dijumpai seperti jumlah darah yang keluar lebih sedikit atau lebih banyak dari biasanya, masa haid yang sangat lama, atau mengalami sindroma pra-menstruasi (PMS) berat.

Kedua, nyeri perut bagian bawah yang menandakan adanya indikasi infeksi rahim, indung telur, dan saluran tuba yang disebut pelvic inflammatory disease (PID) atau penyakit radang panggul. Keputihan tak biasa, demam, dan nyeri pada perut bagian atas juga merupakan serangkaian gejala klinis PID.

Ketiga, infeksi jamur vagina yang ditandai dengan keluarnya cairan putih kental dari vagina, nyeri saat buang air kecil dan berhubungan seksual dan rasa terbakar pada vagina. Keempat adalah kanker serviks yang termasuk sebagai salah satu kondisi AIDS.

Melalui artikel ini diharapkan Sahabat Sehat bisa memiliki pengetahuan, kesadaran, dan kemandirian lebih untuk mampu mencegah dan berperan aktif dalam mengendalikan serta menekan infeksi HIV dan penularannya.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Kemenkes RI. 2022. Cegah HIV-AIDS. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20221129/5041895/cegah-hiv-aids-kemenkes-perluas-akses-pencegahan-pada-perempuan-anak-dan-remaja/. Diakses 9 Desember 2022

Mahathir M. 1997. Women at greater risk of HIV infection. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12292992/. Diakses 9 Desember 2022

Web MD. 2022. HIV Symptoms in Women. https://www.webmd.com/hiv-aids/hiv-symptoms-men-women. Diakses 9 Desember 2022

CDC. HIV-AIDS. https://www.cdc.gov/dotw/hiv-aids/index.html. Diakses 9 Desember 2022

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.