Risiko Penularan Virus HIV/AIDS pada Ibu Hamil

Halo, Teman Sehat! Tahukah kamu, kalau HIV/AIDS termasuk penyakit yang seringkali ditakuti karena dianggap sangat menular? Yap, HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus penyebab terjadinya penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yang bisa mengganggu kemampuan tubuh untuk melawan infeksi.

Seseorang bisa terkena HIV/AIDS karena 3 hal, yaitu hubungan seksual yang ngga aman, infeksi melalui darah, dan penyebaran melalui ibu ke anaknya (vertical mother to child transmission).

HIV/AIDS di Dunia

Berdasarkan data dari WHO mengenai HIV/AIDS, pada tahun 2011 sekitar 34 juta jiwa di seluruh dunia, hidup dengan virus ini. Angka kematian yang disebabkan penyakit ini, mencapai 1,7 juta manusia.

Selain itu, menurut data WHO  pada tahun 2011, sebanyak 3,3 juta anak dibawah usia 15 tahun di seluruh dunia hidup dengan virus ini. Sedangkan di Indonesia, kasus ini mencapai angka 380.000 pasien, dengan kasus perempuan >15 tahun mencapai 110.000 kasus, termasuk yang terjadi pada ibu hamil.

Lalu, gimana ya kalau ibu hamil yang positif mengidap HIV AIDS? Apakah si kecil akan mengidapnya juga? Yuk simak penjelasannya di sini!

Masa kehamilan

Data menunjukkan bahwa kasus AIDS yang menyerang anak di bawah usia 10 tahun biasanya terjadi karena penularan selama ibu mengandung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Donel, Ibu hamil yang ngga diberikan obat highly active antiretrovial therapy (HAART), 80% akan menyebabkan penularan ke anaknya.

Penularan dalam kandungan terjadi melalui tali plasenta. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan darah dan penggunaan obat HAART bagi ibu hamil sedini mungkin untuk mendeteksi segala kemungkinan dan menurunkan risiko penularan.

Masa persalinan

Selain kemungkinan tertular terjadi di dalam kandungan, biasanya anak juga  bisa terpapar HIV pada saat persalinan. Pada tahap ini, bayi bisa tertular melalui darah atau cairan milik ibu yang terinfeksi HIV.

Pada perempuan yang positif terinfeksi HIV, virus ini bisa ditemukan pada cairan yang keluar di sekitar organ intimnya saat bayi dilahirkan. Oleh karena itu, ibu hamil perlu pertimbangan khusus dalam memilih proses persalinannya, karena risiko penularan yang tinggi.

Menurut berbagai penelitian, risiko penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi pada saat persalinan lebih rendah jika menggunakan metode caesar. Selain itu, metode pervaginam juga dianjurkan dengan kondisi tertentu.

Masa menyusui

Selanjutnya, penularan HIV juga bisa terjadi selama masa menyusui. Penularan melalui Air Susu Ibu (ASI) bahkan meningkat hingga dua kali lipat. ASI pada ibu yang terkena HIV, mengandung jumlah virus yang cukup banyak.

Beberapa kondisi saat menyusui juga bisa meningkatkan risiko penularan HIV, seperti adanya luka di sekitar puting susu. Sejumlah ahli menyarankan ibu hamil mengonsumsi obat antiretroviral, untuk mencegah penularan pada janin. Tapi, tetap dengan saran dari dokter sebelum mengonsumsi obat atau menggunakan susu formula untuk si kecil

Yuk, Teman Sehat kenali kondisi ibu hamil yang terkena virus HIV AIDS ini. Jangan hindari mereka, tapi berikanlah edukasi tentang HIV AIDS yang benar. Hal ini dilakukan agar mereka tetap bisa melihat si kecil yang dikandungnya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Yuk, share kebaikan ini ke orang sekitar kamu!

Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *