Pernahkan Teman Sehat mendengar tentang Lazy Eyes Syndrome?

Seperti namanya, Lazy Eyes Syndrome memang secara harfiah berarti mata yang pemalas. Sama kaya kita kalau sedang malas gerak alias mager! Namun, ternyata mata yang pemalas ini tidak bisa dianggap remeh lho, Teman Sehat.
Lazy Eyes Syndrome punya nama resmi dalam istilah kedokteran, yaitu amblyopia.
Amblyopia adalah kondisi mata yang mengalami penurunan pengelihatan dengan ciri utama keadaan kontras dimana salah satu mata memiliki kemampuan fokus yang jauh lebih baik dibanding mata lainnya.
1. Apa sih sebenarnya penyebab dari ambylopia?

Perbedaan minus, plus, dan silinder antara mata kanan dan kiri yang terlalu besar ternyata yang sering menjadi penyebab utama mata kamu jadi ‘pemalas’.
Perbedaan minus dan plus yang terlalu besar di antara kedua mata
Saat salah satu mata memiliki minus atau plus yang jauh lebih tinggi dibanding mata satunya, otak akan dihadapkan oleh gambar yang ditangkap dari dua mata yang memiliki kemampuan berbeda, gambar yang buram dan jelas.
Nah, otak akan cenderung mengambil gambar yang jelas dan mengabaikan gambar yang buram. Semakin lama mata yang ‘malas’ akan selalu mengandalkan kemampuan mata yang normal, akibatnya mata ‘malas’ akan semakin buruk keadaannya karena tidak sering dilatih.
Tipe mata malas yang seperti ini biasanya tidak terdeteksi sejak dini dan sering kali tidak diobati karena tidak terlihat kelainan pada fisik bola mata.
Lain halnya dengan ambylopia yang disebabkan karena mata juling atau strabismus

Kedua mata tidak mengarah pada titik yang sama, jadi otak cenderung akan mengabaikan si mata ‘malas’ untuk mencegah kebingungan. Tipe mata malas akibat juling lebih mudah terseteksi karena terlihat dari tampilan mata yang tidak normal.
Maka itu, amblyopia ini lebih populer derngan nama Lazy Eyes Syndrome karena memang menggambarkan keadaan salah satu mata yang kondisinya jauh lebih buruk dan pemalas karena selalu mengandalkan mata satunya
2. Gimana cara menanggulangi Lazy Eyes Syndrome?
Amblyopia sebenarnya paling baik diobati sejak masa anak-anak. Oleh karena itu, pemeriksaan mata sejak dini seharusnya dilakukan sehak anak berusia 6 bulan, tiga tahun, dan setiap dua tahun sekali selama masa sekolah. Dengan begitu, apabila anak sudah terdeteksi memiliki kelainan di antara kedua matanya, pengobatan dapat segera dilakukan untuk mencegah kondisi yang semakin parah saat besar nanti.

3. Terus, gimana untuk Teman Sehat yang baru menyadari amblyopia saat dewasa?
Pengobatan yang paling sering dilakukan pada penderita Lazy Eyes Syndrome yang sudah dewasa adalah dengan ‘memaksa’ otak untuk mulai menggunakan si mata ‘malas’ itu dengan cara terapi pengelihatan. Fellow of American Academy of Optometry menyatakan kalau orang dewasa dengan Lazy Eyes Syndrome yang memiliki motivasi tinggi dan rajin melakukan terapi pengelihatan terbukti dapat mengalami perbaikan yang signifikan.

Tidak ada kata terlambat kalau ada niat kuat. Jika Teman Sehat ada yang merasa mengalami Lazy Eyes Syndrome, segerakanlah untuk menemui dokter spesialis mata ya! (agt&don)

