Sahabat Sehat, vaksinasi merupakan salah satu strategi pencegahan dan penekanan kasus penyakit menular, seperti polio, cacar air, difteri, hingga tetanus. Di dalam vaksin terdapat kandungan thimerosal yang pernah dikabarkan menjadi penyebab autisme. Benarkah begitu?

Benarkah sebebkan autisme?
Studi ilmiah di tahun 1998 pernah melaporkan suatu hipotesis mengenai kemungkinan adanya hubungan antara autisme dan vaksin. Pada waktu yang hampir bersamaan, terdapat peningkatan kasus autisme, sehingga hipotesis tersebut berdampak pada munculnya beragam mitos di masyarakat yang mulai memperhatikan kandungan merkuri dalam vaksin.
Pada bulan Juni tahun 1999, Food and Drug Administration (FDA) menyebutkan bahwa beberapa bayi menerima vaksin multidosis yang mengandung thimerosal yang diduga tercemar merkuri dalam jumlah melebihi ketentuan pemerintah.
The American Academy of Pediatrics (AAP) dan produsen vaksin menyebutkan bahwa thimerosal ngga terbukti berdampak membahayakan manusia. Nah, ternyata bulan Juli tahun 1999, FDA memberikan anjuran untuk mengurangi atau mengganti thimerosal supaya terhindar dari paparan merkuri.
Mengutip laman Kementerian dan Informatika Republik Indonesia (Kemkominfo RI) tahun 2020, beredar kabar hoax mengenai thimerosal dalam vaksin yang bisa menyebabkan autisme. Informasi tak berdalil ini pun langsung diklarifikasi oleh pejabat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang menyatakan bahwa berita tersebut ngga benar.
Vaksin memiliki manfaat yang lebih besar dibandingkan risikonya, bukan? Yuk, berkenalan dengan salah satu komponen vaksin, yakni thimerosal.

Peran thimerosal dalam vaksin
Thimerosal atau thiomerosal, dikenal juga dengan mercurothiolate merupakan pengawet yang mengandung merkuri. FDA juga menetapkan penggunaan thimerosal sebagai bahan pengawet pada sediaan vaksin multi dosis, vaksin yang mengandung virus hidup (MMR, polio, BCG).
Penambahan thimerosal di akhir proses ini telah digunakan dalam pembuatan vaksin sejak tahun 1930-an. Peranannya dalam vaksin sangat efektif sebagai pengaman kontaminasi bakteri dan mikroorganisme lain, khususnya sediaan vial multi dosis yang sudah dibuka. Tujuan lain yaitu membunuh bakteri dalam beberapa jenis vaksin.
Selain sebagai pengawet, thimerosal juga digunakan sebagai inactivating agent (vaksin whole cell dan acellular pertussis) atau bakteriostatik (vaksin influenza). Thimerosal memiliki kandungan merkuri sebesar 49% menurut beratnya, yang kemudian dipecah menjadi ethyl mercury dalam tubuh manusia.
Menurut World Health Organization (WHO), batas keamanan thimerosal yang diizinkan yaitu 0,005-0,02 % (vaksin bakteri) dan < 0,012% (vaksin hepatitis). Institute of Vaccine Safety (IVS) menyebutkan bahwa belum ada bukti ilmiah mengenai jumlah thimerosal yang bisa berdampak bahaya, kecuali reaksi alergi.
Sahabat Sehat, vaksin DPT, DT, TT, dan hepatitis B yang berada di Indonesia diketahui bebas thimerosal. Mengacu pada ambang batas yang ditetapkan WHO, jumlah thimerosal dalam vaksin yang aman berada dalam rentang 0,005-0,01% di Indonesia.
Sumber merkuri tentunya bisa juga berasal dari makanan dan lingkungan sekitar, Sahabat Sehat. Paparan merkuri dari sumber tersebut bisa lebih tinggi dibandingkan vaksin. Ambil manfaat dari vaksinasi jauh lebih baik daripada kekhawatiran terhadap ancaman penyakit infeksi.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP