Say ‘No’ to Baby Shaming, Cintai Si Kecil!

Teman Sehat, apakah kamu pernah mendengar istilah baby shaming? Istilah ini belum lama menjadi tren, karena ada yang mengunggah foto secarik kertas bertuliskan perilaku ‘memalukan’ si kecil yang di letakkan dekatnya, pada laman media sosialnya. Bagi sebagian orang, mungkin tren ini lucu, tapi ada juga yang ngga menyukainya. Hal ini dikarenakan, perilaku ini bukan sekedar tren tapi juga berdampak bagi si kecil. Benarkah? Yuk, simak!

Mengenal baby shaming

Baby shaming ngga hanya melalui ungkapan yang diunggah pada laman media sosial, loh! Tapi juga ungkapan atau komentar yang diberikan untuk si kecil juga termasuk baby shaming. Misalnya:

Sumber: www.dogshaming.com

“Kok si ade cepat sekali besarnya, wajahnya ngga mirip ayahnya ya? Hidungnya tuh, sering ditarik biar mancung.”

Nah, komentar-komentar seperti ini yang disebut baby shaming atau body shaming. Baby shaming ini memang sering kali dilakukan tidak sengaja atau tidak bermaksud buruk, karena belum banyak orang yang mengetahui dampak buruknya.

Dampaknya

Anak yang menerima perlakuan ini akan merasa ngga suka dengan orangtua maupun pelakunya. Annie Gurton, seorang terapis psikologi mengatakan perilaku ini akan berdampak panjang, seperti merusak kepercayaan diri si kecil. Selain berdampak pada anak, perilaku ini juga bisa mengganggu psikologis orang tua.

Orang tua yang mendengar komentar-komentar negatif tentang anaknya, tentu merasa sedih dan frustasi. Mereka akan merasa gagal dalam merawat dan mengasuh anaknya. Psikologis orang tua yang terganggu juga akan berdampak buruk bagi perkembangan dan pertumbuhan si kecil.

Cara mengatasinya

Fakta mengejutkan diketahui bahwa baby shaming lebih sering dilakukan oleh orang terdekat, seperti keluarga. Ditambah lagi, sering dilakukan secara spontan atau ngga disengaja. Nah, ini yang membuat perilaku ini sulit dihindari. Kamu bisa mengikuti beberapa tips ini untuk menghindarinya, yuk simak!

  1. Fokus pada cara merawat dan mengasuh si kecil. Menilai perkembangan dan pertumbuhan anak itu penting, Tapi kamu ngga perlu sedih, jika hasilnya ngga sesuai dengan harapanmu. Kalau kamu sudah merasa memberikan yang terbaik untuk si kecil, jangan khawatir lagi, ya. Terus belajar dan berusaha untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi.
  2. Ngga perlu mendengar ucapan-ucapan yang negatif orang lain. Jangan terpengaruh dan yakinkan diri, jika kamu orang tua yang terbaik untuk anakmu.
  3. Kalau ucapan orang sulit untuk dikendalikan, maka kendalikanlah diri saat berbicara. Usia bayi memang belum sepenuhnya memahami ucapan orang dewasa, tapi si kecil bisa merasakannya melalui nada bicara, gerakan, dan juga pola napas. Sebisa mungkin kontrol ucapan dan emosimu di dekatnya, ya!
  4. Tidak perlu merespons komentar orang lain. Menahan diri untuk ngga membalas komentar buruk tentang anak memang sulit, tapi itu yang terbaik buat kamu dan si kecil.
  5. Jangan memposting foto anak untuk dipublikasikan ke akun media sosialmu. Jika ingin memposting sebagai kenang-kenangan, cukup gunakan mode private untukmu dan orang terdekatmu saja.

Baby shaming bukanlah hanya sekadar joke atau komentar biasa.  Anak menganggap orang dewasa sebagai tameng atau pelindung bagi dirinya. Perilaku ini hanya akan membuat si kecil merasa sedih dan dikhianati. So, stop baby shaming and loving your babies.

Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *