Tantangan dalam Memberikan ASI Eksklusif

Bicara tentang ASI eksklusif, sebagian besar Teman Sehat tentu sudah tahu bahwa istilah ini bermakna pemberian ASI tanpa disertai makanan atau minuman apapun pada anak usia 0-6 bulan. Sayangnya, studi menunjukkan bahwa ternyata hanya sekitar 40% dari anak Indonesia usia 0-6 bulan yang mendapatkannya. Kira-kira apa ya penyebabnya?

Maraknya produk pengganti ASI

Di Indonesia, sebenarnya sudah punya kebijakan yang berkaitan dengan kewajiban pemberian ASI eksklusif, kecuali pada kondisi medis tertentu. Sayangnya, peraturan ini belum didukung dengan larangan promosi produk pengganti ASI (breastmilk substitutes, BMS) sebagaimana disarankan oleh WHO.

Pada konteks yang lebih kecil, masih ditemukan tenaga kesehatan (nakes) yang kurang memahami kebijakan rumah sakit terkait penerapannya. Hal ini dikarenakan masih kurangnya penjelasan dan pelatihan secara rutin oleh pihak manajerial.

Ketiadaan peraturan terkait BMS, menjadi salah satu penyebab maraknya produk BMS di Indonesia. Masih banyaknya iklan BMS di berbagai media, menimbulkan anggapan bahwa produk BMS sama baiknya dengan ASI eksklusif. Padahal, seperti yang kamu tahu, pemberiannya hanya dalam keadaan tertentu.

Kurangnya dukungan dari lingkungan

Seorang ibu membutuhkan suasana yang nyaman dan mendukung untuk menyusui anaknya. Namun ternyata, hal ini masih relatif sulit ditemukan di tempat-tempat umum. Contohnya, minimnya bilik menyusui di tempat umum memaksa ibu untuk mencari tempat tersembunyi untuk menyusui anaknya.

Selain itu, rendahnya dukungan dari keluarga, seperti ngga ada bantuan dalam membersihkan rumah atau memasak, juga terkadang membuat proses menyusui kurang optimal. Mendapatkan konselor ASI yang cocok untuk membantu ibu saat menyusui, ternyata ngga selalu mudah. Hal ini juga menyebabkan terganggunya proses menyusui.

Tradisi, mitos dan persepsi yang salah

Pantangan makan dan mitos terkait ASI masih ditemukan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Contohnya, cairan kolostrum yang ngga baik bagi bayi dan perlunya pemberian makanan prelakteal bagi bayi. Padahal cairan kolostrum, sangat berguna bagi daya tahan bayi, loh!

Lalu, pemberian makanan selain ASI sebelum bayi berusia enam bulan, bisa berisiko pada sistem pencernaannya. Di sisi lain, persepsi yang salah dari ibu juga bisa menghambat pemberian ASI eksklusif. Contohnya, ibu merasa volume ASI-nya ngga mencukupi, sehingga bayinya lapar dan masih menangis. Nah, hal seperti ini perlu diluruskan, Teman Sehat! Bayi yang menangis bisa saja disebabkan oleh hal lain.

Nah, Teman Sehat menyusui merupakan salah satu upaya yang perlu dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dukungan sekecil  apapun akan berharga bagi ibu. Yuk, dukung ibu-ibu di sekitar kalian untuk memberikan ASI eksklusif!

Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.