Yuk, Kelola Sampah jadi Kompos!

Teman Sehat, tahukah kamu bahwa tanggal 5 Agustus ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Sedunia? Isu lingkungan cukup banyak dibicarakan, terlebih terkait food waste yang banyak menyita perhatian para peduli lingkungan. Tapi, apakah kamu tahu cara mengelolanya? Yuk simak penjelasannya di sini!

Cegah, pilah, olah

Sebagai makhluk yang tinggal di bumi, tentu kamu perlu peduli dengan lingkungan sekitar. Sampah memang akan terus ada selama manusia ada, tapi akan lebih baik bila produksi sampah bisa diminimalisir. Kamu juga perlu mengadopsi konsep yang digagas oleh DK Wardhani, yaitu 3-AH :

  • CegAH, mulailah dengan menyiapkan menu harian untuk seminggu kedepan dengan berbelanja seperlunya, agar produksi sampah organik berkurang. Saat makan, ambilah secukupnya sesuai Pedoman Isi Piringku dan habiskan. Sebisa mungkin hanya sisakan bagian yang memang ngga bisa dimakan seperti tulang, duri, dan biji.
  • PilAH, Pilahlah sampah organik dari sampah lainnya untuk menjaga kondisi sampah tetap baik dan mudah terurai. Hal ini dilakukan, agar pencemaran tanah bisa diminimalisir oleh air lindi dan pencemaran udara oleh gas metana dari sampah organik. Bila sampah terpilah, maka sampah an-organik yang punya nilai jual, lebih mudah untuk dimanfaatkan kembali.
  • OlAH, Olahlah sampah organik menjadi kompos atau masukkan ke dalam lubang biopori. Komposter sebaiknya hanya untuk sampah organik nabati, sedangkan hewani bisa dimasukkan ke dalam lubang biopori.

Mmebuat kompos dari sampah organik

Kegiatan mebuat kompos (composting) dilakukan dalam wadah kompos yaitu komposter. Banyak orang yang beranggapan kegiatan ini sulit, padahal ngga loh. DK wardhani menyebutkan cukup sediakan 5 unsur penting dalam mengompos, yaitu :

Green Waste, Compost, Compost Bin

  1. Organik coklat: Kaya akan zat karbon yang memudahkan pembuatan kompos. Contohnya daun kering, sekam, serbuk gergaji, kardus. Pilih salah satu yang ada di rumah.
  2. Organik hijau: Kaya akan nitrogen yang bisa menyuburkan tanaman. Contohnya kulit buah, biji, daun segar, kulit umbi, cangkang telur, ampas teh, ampas kopi, dan sisa makanan.
  3. Tanah dan pupuk kandang (kotoran hewan herbivora).
  4. Bioaktivator: Bahan yang membantu mempercepat proses penguraian. Contohnya air cucian beras, air rendaman gula jawa atau tempe, buah busuk. Diamkan 1-2 hari sebelum digunakan.
  5. Oksigen: Pada kompos jenis aerob, kompos butuh udara sehingga harus diaduk 2-3 kali seminggu agar proses penguraian berjalan lancar.

Tahapannya

Kamuperlu membuat starter kompos terlebih dahulu. Starter kompos diibaratkan seperti starter pada proses pembuatan makanan fermentasi. Sebisa mungkin gunakan alat dan bahan yang tersedia di rumah. Yuk, perhatikan langkah-langkah ini!

  1. Siapkan wadah komposter seperti pot, ember, karung, gerabah.
  2. Masukkan organik coklat. Cukup salah satu jenis aja, ngga mesti semua.
  3. Masukkan tanah dan pupuk kendang, atau dapat juga pakai media tanam yang biasa dijual di tukang bunga.
  4. Masukkan sampah organik hijau.
  5. Tutup dengan media tanam.
  6. Siramkan bioaktivator secukupnya, bisa dengan cara disemprot.
  7. Tutup dengan organik coklat.
  8. Diamkan selama 2-3 hari dan jangan masukkan sampah organik baru terlebih dahulu. Bila komposter hangat, artinya komposter bekerja dan siap digunakan. Kompos dapat dipanen setelah 2-3 bulan.

Nah Teman Sehat, mudah kan cara pembuatan kompos? Yuk mulai bijak kelola food waste. Semoga bermanfaat, ya! Jangan lupa share dan komen, jika artikel ini bermanfaat!

Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.