
Sahabat Sehat, mungkin kamu sudah membaca berita mengenai seorang ibu melakukan aksi damai meminta MK melakukan uji UU Narkotika No. 35 Tahun 2009. Di Amerika Serikat dan negara Eropa, penggunaan ganja medis diizinkan dengan pembatasan tertentu. Dua zat yang dibolehkan adalah THC dan CBD.
Apa itu Ganja Medis?
Ganja medis, atau medical marijuana (MMJ), adalah kanabis dan kanabinoid yang diresepkan oleh dokter untuk pasiennya. National Institute of Drug Abuse AS mendefinisikan ganja medis sebagai “menggunakan seluruh tanaman ganja yang belum diproses atau ekstrak dasarnya untuk mengobati gejala penyakit dan kondisi lainnya”.
Ganja mengandung >400 bahan kimia berbeda, sekitar 70 jenis termasuk dalam kanabinoid. Sebagai perbandingan, obat-obatan legal dan disetujui Pemerintah di banyak negara hanya mengandung satu atau dua bahan kimia. Jumlah bahan kimia aktif dalam ganja adalah salah satu alasan mengapa pengobatan dengan ganja sulit untuk diklasifikasikan dan dipelajari.
Pemanfaatan Ganja Medis
Psikoaktif utama kanabinoid adalah delta-9 tetrahydrocannabinol (THC). Jenis kanabinoid aktif lainnya adalah cannabidiol (CBD), yang dapat menghilangkan rasa sakit, menurunkan peradangan, dan mengurangi kecemasan tanpa menyebabkan kemungkinan sakau.
Sakau adalah salah satu efek samping penggunaan THC dalam dosis tinggi. Ganja dan kanabinoid telah dipelajari untuk menghilangkan rasa sakit, mual dan muntah, kecemasan, dan kehilangan nafsu makan yang disebabkan oleh kanker atau efek samping dari kemoterapi.
Ganja medis bisa diberikan melalui berbagai metode, termasuk kapsul, tablet hisap, tincture, semprotan oral atau dermal, ganja telan, serta vape dan rokok menggunakan ganja kering. Ganja sintetis seperti dronabinol dan nabilone tersedia untuk penggunaan resep di beberapa negara.

Efek Samping Ganja Medis
Efek samping dari penggunaan ganja medis seperti kelelahan, pusing, nafsu makan meningkat, serta efek kardiovaskular dan psikoaktif. Efek lain mencakup gangguan memori jangka pendek, gangguan koordinasi motorik, penilaian yang diubah, dan paranoia atau psikosis pada dosis tinggi.
Jumlah ganja yang biasanya digunakan untuk tujuan pengobatan diyakini ngga menyebabkan kerusakan kognitif permanen pada orang dewasa, meskipun pengobatan jangka panjang pada remaja harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Gejala withdrawal jarang menjadi masalah dengan administrasi ganja medis terkontrol.
Isu dan Legalitas Ganja Medis
Negara yang mengizinkan penggunaan seluruh bagian ganja untuk keperluan medis termasuk Australia, Kanada, Chili, Kolombia, Jerman, Yunani, Israel, Italia, Belanda, Peru, Polandia, Portugal, dan Uruguay. Di Amerika Serikat, 37 negara bagian dan Distrik Columbia melegalkan ganja untuk keperluan medis.
Sifat obat potensial ganja dan komponennya telah menjadi subjek penelitian dan perdebatan sengit selama beberapa dekade. Undang-undang federal AS melarang penggunaan Cannabis sativa atau turunannya untuk tujuan apa pun. Sebaliknya, CBD yang berasal dari tanaman rami (< 0,3% THC) legal di bawah UU federal AS.
THC terbukti memiliki manfaat medis dalam formulasi tertentu. Food and Drug Administration (FDA) A.S. menyetujui obat berbasis THC, dronabinol (Marinol®) dan nabilone (Cesamet®), diresepkan dalam bentuk pil untuk pengobatan mual pada pasien kemoterapi kanker dan untuk merangsang nafsu makan pada penderita wasting syndrome akibat AIDS.
Selain itu, beberapa obat berbasis ganja lainnya telah disetujui atau sedang menjalani uji klinis. Nabiximols (Sativex®), semprotan mulut yang dijual di Inggris, Kanada, dan beberapa negara Eropa untuk mengobati nyeri neuropatik yang mungkin menyertai multiple sclerosis. Dua komponen nabiximols adalah THC dan CBD.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
