Teman sehat, kita patut bersyukur, tubuh kita ini dibekali sistem kekebalan tubuh atau imunitas yang dahsyat. Ada dua jenis kekebalan, yaitu kekebalan bawaan yang dimiliki sejak bayi lahir dan kekebalan yang didapat saat kita miliki saat tubuh terinfeksi (adaptif). Kedua sistem kekebalan tubuh ini menjaga tubuh kita dari ganggauan, serangan kuman atau patogen penyebab penyakit.

Sistem kekebalan tubuh ini bagai bala tentara dipimpin komandan, yang siap berperan setiap saat bila kuman atau patogen datang menyerang. Beberapa bala tentara dari kekebalan bawaan akan segera melawan patogen dalam waktu singkat. Namun, ketika patogen berhasil masuk ke dalam darah atau jaringan, maka sekelompok tentara kekebalan adaptif berperan bagai intelijen yang cerdas – memindai dan mengingat profil patogen, dan memberi perintah untuk menghasilkan antibodi spesifik yang sesuai untuk menghancurkabn patogen yang masuk. Perlawanan pun terjadi yang ditandai dengan radang (inflamasi), dan suhu tubuh meningkat. Bila sistem kekebalan unggul, maka tubuh kita tetap sehat.
Kekebalan bawaaan
Bayi dilahirkan dengan sistem kekebalan yang belum matang yang berkembang sepenuhnya dalam beberapa tahun pertama kehidupan, yang bisa menurun seiring penuaan di masa dewasa. Imunitas bawaan berperan sebagai mekanisme pertahanan non-spesifik yang berperan dalam semua kondisi kuman penyebab penyakit. Sistem kekebalan ini segera atau dalam beberapa jam setelah munculnya penjahat atau kuman asing (antigen) yang masuk ke dalam tubuh.
Sistem kekebalan tubuh bawaan ini misalnya kulit, air ludah, air mata, mukosa, bahan kimia dalam darah, dan sel sistem kekebalan seperti neutrofil dan macropagh, yang menyerang penjahat asing yang masuk ke dalam tubuh.
Kekebalan adaptif

Sistem kekebalan adaptif atau spesifik dibentuk tubuh ketika tubuh kemasukan kuman/patogen atau benda asing yang harus ditaklukkan, karena sistem kekebalan bawaan ngga sanggup mengatasinya. Sistem kekebalan adaptif ini terdiri dari sel-sel yang sangat khusus yang disebut sel T limfosit yang berasal dari timus dan diturunkan sel limfosit B yang berasal sumsum tulang. Sel-sel ini mampu mengenali dan menginat penjahat (antigen) asing yang masuk ke dalam tubuh, serta memiliki kapasitas untuk menghasilkan antibodi yang digvunakann untuk menghancurkan penjahat yang yang telah dikenalinya.
Kekebalan adaptif ada dua jenis, yaitu kekebalan humoral yang hasilkan oleh limfosit B dan kekebalan seluler oleh limfosit T. Kekebalan adaptif ini memerlukan waktu 1-2 minggu menghasilkan antibodi. Antibodi dibuat dari zat gizi terutama dari komponen asam amino atau protein dan memerlukan sejumlah zat gizi lainnya terutama vitamin dan mineral serta air dalam mekanisme kerjanya.
Stres menurunkan kekebalan tubuh

Stres terjadi ketika kebutuhan spiritual, mental, emosional, dan fisik ngga seimbang. Stres kronik berpengaruh buruk pada kekebalan tubuh yang bisa mengakibatkan gangguan kesehatan serius termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes, dan kanker. Suatu meta-analisis menyimpulkan bahwa orang yang mengalami stres kronik berdampak buruk terhadap respons antibodi terhadap virus dibandingkan dengan individu yang minimal stres. Artinya bila stres menurunkan kekebalan tubuh, dan bila sakit menjadi lambat sembuh. Efek ini ngga berbebeda pada dewasa, muda ataupun pada lanjut usia.
Kekebalan tubuh dipengaruhi oleh berbagai hal termasuk asupan dan status gizi, kebugaran tubuh, keseimbangan mikrobiota terutama di usus, paparan toksik dan antibiotik, kesehatan mental, emosional, dan spiritual. Ini artinya tubuh yang sehat tentu lebih tahan banting, takmudah stres, kuat mental dan memiliki sistem kekebalan yang kuat. Nah Teman Sehat, jangan abaikan mewujudkan tubuh yang sehat agar kekebalan kuat.
(Prof Dr Hardinsyah MS, Guru Besar Ilmu Gizi FEMA IPB dan Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia)
