Halo Sahabat Sehat! Tahukah kamu bahwa darah yang ada di dalam tubuh bisa menjadi kental? Yap, pada kondisi terluka, darah yang semula cair akan berubah menjadi gel. Proses ini akan membantu kamu supaya ngga kehilangan darah dalam jumlah banyak. Tapi, darah yang mengental di dalam pembuluh darah bisa berisiko pada munculnya penyakit jantung dan pembuluh darah.

Mengenal faktor penyebab darah kental
Potensi penyebab yang beragam menyebabkan belum adanya definisi standar mengenai kekentalan darah. Darah kental cenderung dialami oleh orang yang mengalami kondisi tertentu, seperti kelainan darah (Polycythemia vera) yang disebabkan mutasi genetik, sindroma metabolik (hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, obesitas), kanker, deep vein thrombosis (DVT). Juga pada orang yang sedang mengonsumsi obat-obatan, sepert obat hormonal, pil KB, dan tamoxifen, serta merokok.
Beragam kondisi bisa menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan, pembuatan sel darah merah yang berlebih hingga menurunnya produksi faktor pembekuan darah. Oleh karenanya, risiko darah kental berpotensi terjadi pada beberapa kondisi tersebut.
Hubungan darah kental dan penyakit jantung
Pengentalan darah menggambarkan proses perlekatan antar sel darah merah yang kemudian membentuk suatu gumpalan. Banyaknya gumpalan yang mengendap menyebabkan penghantaran oksigen dari otak menuju kaki dan organ vital lainnya mengalami keterbatasan atau menurun.
Maka, jantung akan bekerja lebih keras untuk memompa darah yang mengandung oksigen, serta zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Apabila darah kental ini berlangsung dalam kurun waktu yang lama, maka kesehatan jantung berisiko mengalami penurunan.

Apa gejala yang harus diwaspadai?
Memiliki darah kental bisa diketahui melalui gejala yang sering muncul, seperti gangguan penglihatan, pusing dan sakit kepala, rentan mengalami memar atau kemerahan pada kulit, darah haid berlebih, gatal pada kulit, energi menurun, sesak napas tiba-tiba dan napas terengah-engah, serta detak jantung ngga beraturan. Selain pengamatan melalui gejala klinis, darah kental juga bisa diketahui dengan pemeriksaan laboratorium yang spesifik, seperti darah lengkap (hemoglobin, hematokrit), protein C, dan mutasi genetik. Pengentalan darah ini bisa terjadi pada berbagai usia mulai muda hingga tua, khususnya pada orang yang memiliki riwayat penyakit keturunan dan pola hidup yang kurang sehat.
Nah, untuk meminimalkan tingginya risiko darah kental, kamu bisa konsumsi pangan berserat tinggi, vitamin dan protein, serta pangan rendah karbohidrat. Selain itu, anjuran berolahraga minimal 30 menit atau tiga kali dalam seminggu selama 30 menit juga perlu dilakukan.
Yuk, Sahabat Sehat, waspadai gejala darah kental. Bila kamu merasakan beberapa gejala tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan praktisi kesehatan. Dengan menjaga kesehatan jantung, kamu bisa lebih produktif dan kualitas hidup pun meningkat! Stay safe.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
