Hai, Sahabat Sehat, belakangan ini kasus perceraian terus mengalami peningkatan dan bahkan sebuah penelitian yang menunjukkan perceraian meningkat hingga 5% selama masa pandemi Covid-19, alasan utama yang menyebabkan perceraian yaitu karena kesulitan ekonomi.
Tanpa disadari, anak juga menjadi korban dalam perceraian. Kondisi ini memberikan dampak terhadap perkembangan fisik dan mental, bahkan hingga anak tersebut dewasa, seperti apa dampaknya? Check it out!

Ngga bisa menerima perceraian
Pada beberapa kasus perceraian, anak masih belum menerima perceraian yang dilakukan orang tuanya meskipun mereka sudah menginjak usia remaja. Anak akan cenderung memiliki keinginan untuk mewujudkan kuarganya kembali menjadi normal dan membujuk orang tuanya untuk rujuk. Ngga sedikit juga remaja yang sampai melakukan tindakan yang merugikan dirinya sendiri karena merasa gagal menyatukan kedua orang tuanya kembali.
Berdampak pada psikologis anak
Sebuah penelitian pada Profesi (Profesional Islam): Media Publikasi Penelitian terhadap anak remaja yang orang tuanya bercerai, telah membuktikan bahwa perceraian akan berdampak pada kognisi, emosi dan konasi/psikomotor yang dapat mempengaruhi dunia sosial anak. Anak yang belum siap dalam menghadapi perpisahan akan merasa terpukul dan mengalami perubahan tingkah laku seperti pembangkang, pemarah, mudah tersinggung, suka melamun, suka menyendiri, dan jika hal ini dibiarkan maka anak akan sulit mengendalikan diri.
Penurunan prestasi belajar
Motivasi belajar juga bisa dipengaruhi oleh keharmonisan keluarga, anak yang mengalami kondisi perceraian memiliki kecenderungan untuk tertinggal dan memiliki prestasi belajar di bawah rata-rata. Motivasi belajar yang rendah bisa terlihat dari anak malas membaca buku, pasif di kelas, hanya diam, dan mendengarkan saat pelajaran. Selain itu, ketika mengalami kesulitan anak enggan untuk bertanya pada guru maupun temannya. Hal ini tentu bisa berakibat pada penurunan dalam kemampuan bersosialisasi, karena adanya rasa cemas, percaya diri yang rendah, dan tekanan secara emosional.

Kenakalan remaja
Faktor utama terjadinya kenakalan remaja yaitu adanya masalah keluarga yang ngga harmonis. Anak yang berada pada kondisi “broken home” memiliki kecenderungan untuk mengalami gangguan psikologis ke arah negatif. Jika ngga dikendalikan, keadaan ini bisa memicu terbentuknya perilaku menyimpang atau kenakalan remaja. Kenakalan yang sering dilakukan, yaitu membolos sekolah, mem-bully temannya, membuat keributan di kelas, berperilaku kurang sopan, penggunaan obat terlarang, dan masih banyak yang lainnya.
Tapi bukan berarti semua anak yang mengalami perpisahan orang tua bersifat seperti itu, ya Sahabat Sehat. Reaksi ini juga dipengaruhi oleh respon atau perlakuan orang tua dan lingkungan sekitarnya pada saat sebelum, selama, dan setelah perceraian. Diperlukan dukungan, kasih sayang dan kepekaan yang lebih besar dalam membantunya mengatasi rasa kehilangan setelah adanya perceraian. Semoga sehat selalu, Sahabat Sehat!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
