Waspadai Risiko Makan Seblak Berlebihan

Adakah di antara Sahabat Sehat yang suka makan seblak? Hidangan pedas berbahan baku kerupuk ini memang banyak disukai. Namun, di balik sensasi rasa pedas yang bikin ketagihan, ternyata terlalu sering menyantap seblak bisa mengundang berbagai risiko kesehatan.

Tinggi Natrium, Pemicu Hipertensi

Seblak, terutama kuahnya, banyak mengandung natrium yang berasal dari garam, penyedap dan penguat rasa, serta kerupuk yang sudah mengandung garam. Idealnya, Sahabat Sehat dianjurkan untuk tidak mengonsumsi natrium lebih dari 2.000 mg dalam sehari. Jumlah tersebut diperkirakan setara dengan 5 gram atau kurang lebih satu sendok teh garam. Satu porsi seblak dapat mengandung lebih dari separuh batas harian tersebut.

Tahukah Sahabat Sehat, kalau asupan natrium berlebihan merupakan faktor risiko utama terjadinya hipertensi? Hipertensi sendiri bisa menjadi pemicu berbagai masalah kesehatan lainnya, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke.

Foto: Flickr

Bisa Sebabkan Gangguan Pencernaan

Sensasi pedas dalam seblak berasal dari senyawa capsaicin yang terdapat pada cabai. Saat mengonsumsi seblak, capsaicin akan mengaktifkan reseptor transient potential vanilloid 1 (TRPV1) yang akan mengirimkan sinyal ke otak bahwa ada sensasi terbakar dalam tubuh. Aktivasi berlebihan ini memicu peningkatan produksi asam lambung dan peradangan yang dapat menyebabkan dispepsia (nyeri ulu hati), gastritis (radang lambung), atau memperburuk gejala GERD (refluks asam lambung).

Pada usus, iritasi yang disebabkan capsaicin dapat mempercepat pergerakan usus yang memicu terjadinya diare. Ini merupakan respon alami tubuh agar zat tersebut bisa cepat dikeluarkan. Kondisi ini bisa semakin memburuk jika dikombinasikan dengan kuah seblak yang panas dan berminyak, yang juga merangsang produksi asam lambung.

Foto: Freepik

Rendah Gizi

Seblak biasanya tidak mengandung banyak serat, vitamin, dan mineral karena didominasi kerupuk dan kuah berbumbu tajam. Mengonsumsinya terlalu banyak dan sering bisa membuat kamu enggan mengonsumsi makanan lain, kebutuhan gizi ngga terpenuhi secara seimbang. Hal ini berpotensi menyebabkan defisiensi gizi dalam jangka panjang.

Nah, untuk meminimalisir risiko ini, selain tidak mengonsumsinya secara berlebihan dan terlalu sering, ada baiknya Sahabat Sehat juga menambahkan sayuran, seperti sawi, jamur, atau kol dalam seblak. Kamu juga bisa melengkapinya dengan telur, daging ayam, atau seafood untuk menambah kandungan gizinya.

Bukan berarti Sahabat Sehat harus menghindari seblak sama sekali, konsumsilah secukupnya dan tidak terlalu sering. Jangan jadikan seblak sebagai satu-satunya hidangan dan sajikan dengan menu pendamping yang bergizi. Imbangi juga dengan mengonsumsi buah, sayur, dan lauk pauk lainnya.

Referensi
World Health Organization. 2025. Sodium reduction. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/sodium-reduction

Patcharatrakul, T., Kriengkirakul, C., Chaiwatanarat, T., & Gonlachanvit, S. 2020. Acute Effects of Red Chili, a Natural Capsaicin Receptor Agonist, on Gastric Accommodation and Upper Gastrointestinal Symptoms in Healthy Volunteers and Gastroesophageal Reflux Disease Patients. Nutrients, 12(12), 3740. https://doi.org/10.3390/nu12123740

DetikHealth. 2025. Viral Indonesia Disebut ‘Darurat Seblak’, Pakar Gizi: Malnutrisi di Depan Mata
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8096403/viral-indonesia-disebut-darurat-seblak-pakar-gizi-malnutrisi-di-depan-mata
Diakses pada 7 September 2025

Kompas.com. 2025. Benarkah Sering Konsumsi Seblak Sebabkan Hipertensi dan Kolesterol Tinggi?
https://www.kompas.com/tren/read/2025/09/06/140000565/benarkah-sering-konsumsi-seblak-sebabkan-hipertensi-dan-kolesterol-tinggi-?page=all
Diakses pada 7 September 2025

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.