Sahabat Sehat, Bulan November kemarin WHO resmi mengubah nama Monkeypox atau Cacar Monyet menjadi Mpox. Beberapa usulan telah dibicarakan sebelumnya hingga akhirnya nama Mpox disetujui dan disarankan untuk digunakan secara global. Kira-kira mengapa WHO melakukan perubahan tersebut? Yuk, simak penjelasannya di sini!

Penggantian Nama
Pertemuan diadakan oleh WHO yang dihadiri oleh ahli virus dan ahli kesehatan masyarakat sebenarnya sudah terjadi sejak bulan Agustus lalu. Awalnya, para ahli sepakat untuk menamai virus dan varian atau clades menggunakan angka Romawi, namun keputusan akhir baru dilakukan pada bulan November. Akhirnya, ilmuwan dunia sepakat untuk mengganti nama Monkeypox (Cacar Monyet) menjadi Mpox. Proses pergantian ini akan berlangsung selama 1 tahun ke depan di mana istilah Monkeypox masih akan dipakai untuk menyesuaikan penyebutannya sebelum nantinya akan benar-benar dihapus.
WHO di bawah International Classification of Disease (ICD) dan WHO Family of International Health Related Classification bertanggung jawab terhadap penetapan nama baru ini. Penyebab perubahan nama ini yaitu untuk menghindari rasis dan stigma terhadap kelompok budaya, sosial, nasional, regional, profesional, atau etnis tertentu. Tak hanya itu, perubahan nama juga bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif pada perdagangan, perjalanan, pariwisata, atau kesejahteraan hewan.
Penyebutan nama di masing-masing negara masih akan dibahas lebih lanjut disesuaikan dengan otoritas pemerintah dan ilmuwan wilayah tersebut. Akan tetapi, penggunaan nama Mpox lebih disarankan secara global.
Update Mpox di Dunia
Kasus di dunia yang terkonfirmasi sampai saat ini sebanyak 82.522 kasus, meninggal 65 orang, dan 110 negara yang telah melaporkan kasus. Peningkatan kasus terjadi pada minggu akhir November hingga minggu awal Desember sebesar 55%. Kasus terkonfirmasi Mpox paling banyak berasal dari Amerika dan Eropa. Terdapat 10 negara yang terdampak secara berurutan dari jumlah kasus tertinggi hingga terendah di antaranya Amerika, Brazil, Spanyol, Prancis, Kolombia, Inggris, Jerman, Peru, Meksiko, dan Kanada.

Di wilayah asalnya yaitu Afrika, kematian manusia akibat Mpox diketahui sebesar 22% dari total kematian global. Faktanya, bayak kasus yang tidak terdeteksi akibat kurangnya diagnosis laboratorium dan lemahnya pengawasan kesehatan di sana.
Perkembangan Mpox di Indonesia
Kemenkes RI menyatakan kasus Mpox pertama kali terjadi di Indonesia pada Bulan Agustus 2022 yang menginfeksi seorang laki-laki dengan riwayat perjalanan dari beberapa negara di Eropa. Saat ini kasus di Indonesia terpantau melandai dan terkendali. Per akhir September kemarin, dilaporkan dugaan kasus sebanyak 75 yang terinci 1 kasus terkonfirmasi, 1 kasus suspek, dan 73 kasus discarded. Sampai saat ini belum ada update terkini tentang jumlah kasus terkonfirmasi.
Sahabat Sehat, meskipun kasus Mpox di Indonesia semakin melandai, namun bukan berarti kamu dijamin bisa terhindar dari penyakit tersebut. Tetap lakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan hindari kontak fisik dengan penderita terinfeksi. Jangan lupa bagikan informasi ini ke orang-orang sekitar kamu, ya!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
