Sahabat Sehat, kebiasaan isap jempol menjadi hal yang seringkali ditemukan, biasanya mulai terjadi ketika anak berada dalam fase oral atau berusia 0-2 tahun. Fase ini merupakan tahap ketika bayi hobi memasukkan jari dan benda di sekitarnya ke mulut. Jika kebiasaan ini terus berlanjut bisa menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan sang buah hati.

Dampak buruk kebiasaan isap jempol
Pertumbuhan gigi menjadi ngga rapi
Kebiasaan mengisap jempol akan memicu dorongan terus-menerus pada gigi depan sehingga pertumbuhan gigi anak menjadi terganggu. Ini bisa membuat gigi jadi ngga rapi atau gigi atas dan bawah jadi ngga segaris. Pada tahap yang cukup serius, kondisi ini bisa menyebabkan anak kesulitan untuk menutup mulut.
Menimbulkan kalus
Kebiasaan ini juga berpotensi menimbulkan terbentuknya kalus atau kapalan pada jari-jari yang dihisap. Ini dikarenakan adanya tumpukan sel kulit mati dari pergesekan jari dengan lidah secara terus-menerus. Selain itu, juga bisa mendatangkan rasa nyeri hingga terjadinya memar pada jari tangan.
Berisiko mengalami cantengan
Cantengan atau istilah medisnya paronikia, merupakan kondisi ketika akar kuku terinfeksi bakteri atau jamur. Kejadian ini disebabkan oleh tekanan hisapan pada jari yang menimbulkan trauma pada kuku sehingga kuman dapat dengan mudahnya bersarang dan menginfeksi. Jika mengalami kondisi ini, anak akan merasakankan nyeri dan mendapati bengkak kemerahan pada daerah di sekitar kuku.
Bagaimana cara mengatasinya?
Melihat dampak buruknya, Sahabat Sehat perlu lebih waspada dengan mengenali cara dan berusaha mengatasi kebiasaan ini. Berikut ini tiga tips untuk menghentikan kebiasaan isap jempol.

Mengganti jempol yang dihisap dengan benda lain
Jika anak sudah menunjukkan tanda ingin mengisap jempol, kamu bisa mencoba untuk melepaskan jempol anak dengan perlahan, lalu menggantinya dengan sesuatu yang dapat dikunyah, seperti teether. Kamu juga perlu lebih waspada dalam mengawasi sang buah hati, terutama ketika sedang bermain. Sebisa mungkin hindari benda berbahaya dari jangkauan anak.
Memberikan nasihat secara halus
Ketika anak sudah bisa diajak berkomunikasi, Sahabat Sehat bisa menjelaskan dengan bijak menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak mengenai efek buruk dari kebiasaan ini. Misalnya dengan menjelaskan bahwa kebiasaan menghisap jempol bisa membuatnya sakit karena ada kotoran di dalam kuku, atau bisa membuat gigi jadi ngga rapi.
Menerapkan reward system
Di samping itu, kamu juga dapat memberikan hadiah sederhana pada anak apabila ia mampu menghentikan kebiasaan isap jempol, seperti memberikan pujian, atau hal-hal yang disukai misalnya berupa mainan atau buku cerita. Ngga lupa untuk tunjukan dukungan kepada anak supaya ia merasa bangga dan percaya diri.
Selain tips di atas, banyak juga orang yang memilih untuk mengolesi permukaan jempol anak dengan bahan yang ngga enak. Tapi, perlu diketahui oleh Sahabat Sehat bahwa terkadang cara ini dirasa kurang efektif karena bisa membuat anak menganggapnya sebagai suatu hukuman. Sebaiknya hindari pula pemberian hukuman, ejekan atau menakut-nakuti anak. Tindakan ini justru bisa menyebabkan kebiasaan menjadi semakin buruk dan memberikan rasa ngga nyaman pada anak.
Jika upaya tersebut ngga berhasil kamu bisa melakukan kunjungan ke dokter gigi untuk mendapat perawatan atau terapi yang tepat untuk sang buah hati. Semoga informasi ini bermanfaat dan jangan lupa share ke orang-orang disekitarmu, ya!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
