Kota Ramah Sepeda di Indonesia, Bisakah?

Halo, Teman Sehat! Sepeda merupakan salah satu alat transportasi yang menyehatkan dan ramah bagi lingkungan. Tahukah kamu, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menaikkan minat masyarakat bersepeda. Akan tetapi, hal ini juga diiringi beberapa kasus kecelakaan dan konflik jalan raya. Fasilitas yang bagaimana sih yang bisa membuat pengguna sepeda nyaman? Yuk, simak penjelasannya di sini!

Fenomena bersepeda di tengah pandemi

PSBB membuat aturan ketat untuk pergerakan warga, salah satunya terkait kendaraan bermotor yang ngga boleh melebihi setengah kapasitas kendaraan. Fenomena gowes massal ini dipengaruhi beberapa hal, menurut Peneliti Pusat Studi Pariwisata UGM, Drs. Hendrie Adji Kusworo, M.Sc. diantaranya:

Hombre, Mujer, Bicicleta, Aire, Cielo, Banco, Resto

  1. Kebosanan masyarakat selama masa karantina mandiri
  2. Kebutuhan akan rekreasi yang ngga terbatas di rumah saja
  3. Work From Home (WFH) memberikan cukup waktu senggang
  4. Pandemi yang menuntut seseorang memiliki imunitas dengan berolahraga
  5. Sosial masyarakat yang makin senang dengan penggunaan sepeda

Visi pembangunan fasilitas sepeda

Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) menyatakan 57% penduduk di perkotaan mengalami peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang signifikan. Hal ini membuat diperlukannya kebijakan terkait kondisi tersebut untuk mengurai kemacetan dan menurunkan kadar polusi udara perkotaan. Setidaknya ada 4 alasan perlunya kegiatan bersepeda di kawasan perkotaan, yaitu mengefisiensikan ruang jalan, merupakan transportasi ramah lingkungan, meningkatkan keamanan lalu lintas jalan, dan menyehatkan fisik warganya.

Gray Grass

Fasilitas sepeda di perkotaan ini bisa dibangun dengan beberapa anjuran dari ITDP. Dimulai dari penyediaan space khusus sesuai standar, baik lebar dan pengamanan pembatasnya. Permukaan yang disediakan pun sebisa mungkin rata dan ngga licin, jangan disamakan dengan trotoar pejalan kaki. Kemudian, diperlukan juga adanya persimpangan khusus pesepeda untuk meminimalisir konflik dan kecelakaan.

Desain marka atau tanda jalan maupun rambu jalan yang konsisten bisa meningkatkan kesadaran penggunanya. Terakhir, tentunya fasilitas parkir sepeda yang aman dan sesuai kebutuhan. Kalau ini semua terfasilitasi, masyarakat jadi nyaman gowes, kan.

Mengambil contoh Inggris

National Cycle Network yang dikembangkan oleh Inggris sejak puluhan tahun lalu terbukti mengurangi polusi udara sebesar 63%. Selain itu, 85% lebih masyarakatnya merasa lebih bugar, dan lebih dari 50% merasa terbantu dalam menghemat keuangan mereka.

Por Carretera, Urbana, Bicicleta, Lluvias, Calle

Alasan yang membuat Indonesia butuh kerja keras untuk menerapkan kebijakan ini ialah, belum adanya regulasi yang ketat dan acuhnya masyarakat dengan budaya hidup sehat. Dengan adanya protokol kesehatan dan meningkatnya gairah bersepeda, membuat perlunya pemerintah mengambil momentum ini.

Pandemi menyadarkan kita akan pentingnya regulasi dan anggaran untuk kota yang lebih ramah pesepeda. PSBB yang mulai longgar diharap ngga menurunkan minat masyarakat untuk gowes bersama. Teman Sehat, yuk bangun optimisme Indonesia nyaman bersepeda, serta tetap patuh pada aturan berkendara, ya! Jangan lupa bagikan informasi menarik ini ke teman-teman kamu!

Editor & Proofreader: Mega Kurniawati, SGz

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.