High Altitude Illness, Gangguan Kesehatan yang Sering Dialami Pendaki

Halo Teman Sehat! Apakah kamu termasuk penggemar hiking? Hiking menjadi salah satu aktivitas fisik yang semakin trend saat ini. Selain menantang adrenalin, ada perasaan puas saat berhasil menaklukkan puncak gunung/bukit. Sebelum mendaki, Teman Sehat harus mempersiapkan diri, baik secara fisik, mental, maupun perbekalan. Fisik yang kurang fit bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan, salah satu yang paling sering dialami pendaki gunung adalah High-Altitude Illness.

Apa itu High-Altitude Illness?

High-Altitude Illness (HAI) adalah gangguan pada paru dan otak yang biasa terjadi pada orang yang baru pertama kali mendaki. HAI ini terbagi menjadi tiga, yaitu Acute Mountain Sickness (AMS), High-Altitude Cerebral Edema (HACE), dan High-Altitude Pulmonary Edema (HAPE).  AMS ini yang paling sering dialami oleh para pendaki. Diketahui 43% pendaki di Pherice Nepal mengalami gejala AMS.

Penyebabnya

High-Altitude Illness akan meningkat risikonya pada ketinggian di atas 2500 meter. Pada ketinggian ini, temperatur akan lebih rendah, kelembapan rendah, sinar UV lebih tinggi, dan tekanan udara yang rendah. Tekanan udara rendah memicu berkurangnya suplai oksigen di dalam tubuh. Meskipun oksigen di udara jumlahnya sama, tekanan udara yang rendah ini menyulitkan oksigen masuk ke dalam paru-paru.

Umumnya pada ketinggian permukaan air laut, kadar oksigen dalam tubuh sekitar 90-100 mmHG, dan menjadi 65-80 mmHg pada ketinggian 1650 m. Kadar oksigen akan semakin berkurang dengan bertambah tingginya dataran. Di samping itu, kondisi lingkungan di dataran tinggi juga bisa menyebabkan meningkatnya curah jantung, tekanan darah, serta agregasi sel darah merah (pemicu anemia).

Gejalanya

Ketiga jenis High-Altitude Illnes ini ternyata memiliki gejala yang berbeda-beda. Yuk, perhatikan perbedaan masing-masing gejalanya!

  • AMS memiliki gejala utama sakit kepala, kelelahan, ngga nafsu makan, mual, hingga muntah. Sakit kepala biasanya dirasakan 2-12 jam setelah sampai di ketinggian atau setelah menginap di ketinggian.
  • HACE merupakan gejala lanjutan dari AMS. Selain merasakan gejala dari AMS, pendaki akan merasa sangat lelah, bingung, mudah mengantuk, dan sulit menjaga keseimbangan tubuh. Orang yang mengalami HACE harus segera turun dari ketinggian karena bisa menyebabkan kematian 24 jam setelah gejala muncul.
  • HAPE ini yang paling jarang terjadi. Kejadiannya hanya 1:100 pendaki gunung dengan ketinggian di atas 4270 meter. Gejalanya berupa sesak napas saat beraktivitas. Dapat juga terjadi saat istirahat jika keadaannya semakin parah. Gejala lainnya berupa tubuh yang lemah dan batuk.

Cara mengatasinya

Ada beberapa tips yang perlu kamu terapkan sebelum mendaki.

  • Lakukan aklimatisasi atau penyesuaian. Artinya, pendakian perlu dilakukan secara bertahap. Menurut Beidleman, dkk., menetap selama 6 hari di ketinggian 2200 m sebelum mendaki hingga ketinggian 4300 bisa mengurangi risiko AMS.
  • Jika pernah mengalami gejala HAI, memiliki masalah pada jantung dan paru, atau sedang hamil, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum berencana mendaki.
  • Rutin berolahraga ringan mendekati hari pendakianmu.
  • Siapkan emergency kits, seperti obat-obatan, pakaian tebal, bekal makanan dan minuman, serta perlengkapan pendakian lainnya.

Mendaki gunung memang bisa dijadikan sebagai cara menghilangkan stres, menyalurkan hobi, dan meningkatkan aktivitas fisik. Tapi, Teman Sehat tetap harus mempersiapkan fisik, mental, dan perbekalan secara matang. So, enjoy your adventure!

Editor & Proofreader: Fhadilla Amelia, SGz

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.