Sahabat Sehat, apakah kamu seorang K-drama lover atau penikmat layanan streaming? Tentunya, kamu sudah ngga asing dengan fenomena binge-watching. Apalagi di era pandemi Covid-19, bisa jadi mayoritas orang memilih binge-watching untuk mengisi waktu luang atau sebagai cara mengurangi stress. Lalu, apa sebenarnya dampak dan faktor penyebab binge-watching?

Apa itu binge-watching?
Binge-watching adalah fenomena perilaku yang didefinisikan sebagai menonton antara dua dan enam episode acara TV sekaligus dalam sekali duduk. Binge-watching mulai populer di tahun 2013, dan semakin populer ketika pandemi Covid-19 mewabah. Fenomena ini dimungkinkan karena layanan streaming yang berkembang pesat mendasari transformasi perubahan tren, dan memungkinkan akses seluruh episode. Sekarang, penonton dimanjakan kemudahan mengakses seluruh episode dalam sekali waktu, tak seperti dahulu yang perlu menunggu jadwal tiap minggu.
Hari ini pelanggan bisa dengan mudah memilih produk berlangganan dari berbagai layanan streaming seperti Netflix, Hulu, HBO GO, Amazon Prime, Disney+, Crunchyroll, iQiyi, dan Apple TV. Data terbaru yang dirilis Netflix pada kuartal ketiga tahun 2019 menunjukkan bahwa Netflix memiliki lebih dari 167 juta pelanggan berbayar yang tersebar di 190 negara.

Faktor penyebab binge-watching
Terdapat berbagai faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan binge-watching. Bagi sebagian orang binge-watching bisa mendatangkan kebahagiaan instan dan kebutuhan hedonistik terkait dengan hiburan, me-time, dan relaksasi. Alasan lain adalah binge-watching sebagai melarikan diri dari masalah kehidupan sehari-hari dan mengalihkan emosi negatif. Motivasi lain bersifat sosial, ketika binge-watching serial yang sedang in bisa menjembatani hubungan sosial, kebutuhan sebagai bagian dari grup atau fandom, guna diterima oleh member lain. Hal ini didukung oleh penelitian Conlin, Billings, and Averset yang menekankan hubungan yang signifikan secara statistik antara FOMO (fear of missing out) dan binge-watching.
Dr Renee Carr, Psy. D, psikolog klinis, mengaitkan fenomena binge-watching dengan respons alami tubuh kita terhadap hal yang menyenangkan. Binge-watching mendorong rilis dopamin. Dopamin memberikan kesenangan internal alami pada tubuh sehingga mendorong seseorang untuk lebih terlibat dalam aktivitas menyenangkan. Mudahnya digambarkan sebagai sinyal otak yang berkomunikasi dengan tubuh —membawa pesan ‘ini menyenangkan, lakukan aktivitas ini terus’.
Efek negatif binge-watching
Meski, binge-watching memiliki dampak positif seperti memperbaiki mood dan mendatangkan perasaan senang. Seiring waktu Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa pelarian semacam itu mungkin memiliki konsekuensi negatif dengan mengarah pada distraction eating, perilaku anti-sosial, dan pekerjaan atau kinerja akademis yang menurun.
Penelitian pada American Journal of Clinical Nutrition mengaitkan menonton televisi dengan distraction eating yang menyebabkan makan berlebihan dan penambahan berat badan. Pola distraction eating, yakni cenderung memilih junk food, minuman manis, dan minuman beralkohol. Kebiasaan ini akhirnya menyebabkan kenaikan berat badan dan peningkatan risiko kondisi terkait obesitas, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes.
Binge-watching juga dikaitkan dengan kualitas tidur yang lebih buruk, peningkatan kelelahan, dan gejala insomnia. Hal ini dikarenakan binge-watching membuat otak terus bekerja. Menonton dikaitkan dengan risiko menderita penyakit kardiovaskular (CVD) lebih tinggi.
Studi dari University of Texas Austin di tahun 2015—menemukan orang yang kesepian dan depresi lebih cenderung melakukan binge-watching, dan akhirnya mencari kepuasan lewat menonton dan menjauhi kehidupan sosial.
Melihat efeknya yang cukup berbahaya, terutama bila dilakukan terlalu sering, ada baiknya Sahabat Sehat mengurangi kebiasaan ini. Masih ada banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang. Semoga informasi ini bermanfaat, ya!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
