
Sahabat Sehat, berbagai hasil riset menunjukkan manfaat menulis bagi kesehatan mental. Menulis membantu seseorang memahami pemikiran dan emosi, meregulasi perasaan dan mengeskpresikan diri. Menulis dijadikan sebagai cara untuk menghadapi trauma masa lalu. Terapi ini dikenal dengan writing therapy atau expressive writing.
Apa itu writing therapy?
Writing therapy atau expressive writing adalah terapi ekspresif yang mendorong seseorang menuliskan pemikiran dan perasaan. Terutama mengenai kejadian yang menyebabkan trauma dan hal penting yang sulit diutarakan via komunikasi lisan. Kegiatan menulis ini diharapkan mampu mereduksi stress dan meningkatkan kesehatan fisik. Fokus writing therapy yakni memfokuskan diri pada trauma dan menuliskan kejadian yang melukai. Sedangkan formula utamanya berupa “jangan berfokus pada logika, menulislah dengan hati”.
Cara kerja writing therapy
Teori mengenai cara kerja writing therapy dikaitkan dengan penekanan emosi, peristiwa traumatis atau aspek identitas yang menjadi stressor. Stressor ini berdampak negatif bagi kesehatan dan mungkin bisa meningkatkan ke level lebih parah. Writing therapy mendorong seseorang menghadapi emosi lewat pengungkapan dengan tulisan. Pengekspresian tertulis emosional berfungsi untuk meredakan stressor.
Dalam praktiknya, standar prosedur writing therapy adalah meminta klien untuk menuliskan peristiwa traumatis. Dengan waktu 15 – 20 menit selama 3 hari berturut-turut. Studi tahun 2022 yang diterbitkan pada Annals of Behavioral Medicine menemukan dari tiga grup yang diminta menulis jurnal selama satu bulan. Grup yang menuliskan ‘kognisi dan emosi berkaitan dengan stress dan trauma’ mendapatkan manfaat terbesar. Mereka memiliki prespektif lebih baik dalam menghadapai pengalaman stress yang dituliskan.
Tipe writing therapy

Writing therapy secara umum dibagi menjadi dua tipe, yakni didampingi konselor kesehatan mental dan self-motivated writing therapy. Konselor seringkali menggunakan terapi naratif, yaitu klien dan konselor mempraktikan ‘re-authoring’ peristiwa traumatis. Klien dibantu untuk merekonstektualisasi pengalaman dan menghilangkan asumsi, sehingga bisa membantu mereka memandang peristiwa lewat kacamata objektif.
Selain terapi naratif, format lain bisa berupa pembuatan jurnal. Metode jurnal paling efektif bagi korban kekerasan karena mengedukasi klien, serta membantu refleksi dan eksplorasi pengalaman. Selain itu, ada pula focus writing dan menulis lagu. Menulis lagu mengombinasikan music therapy dan writing therapy memberikan jalan bagi seseorang untuk mengenang dan mengekspreksikan emosi.
Penggunaan dan manfaatnya
Writing therapy digunakan dalam menangani berbagai kondisi kesehatan, yakni post traumatic stress disorder (PTSD), kecemasan, depresi, dan patah hati karena kehilangan orang terkasih. Studi 2013 terkait PTSD yang dipublikasikan di Journal of Sexual Medicine, partisipan menuliskan pengalaman terkait fungsi seksual, PTSD dan depresi. Ditemukan bahwa partisipan yang menuliskan skema seksual memiliki kemungkinan sembuh dari disfungsional seksual lebih besar dibanding partisipan yang ngga menuliskan skema seksual.
Writing therapy menawarkan berbagai manfaat positif muali dari mempromosikan pengenalan terhadap diri sendiri, membantu menemukan keseimbangan emosi, meningkatkan kesehatan emosi, hingga menekan stress. Riset menunjukkan bahwa writing therapy juga memiliki manfaat kesehatan fisik, antara lain meningkatkan fungsi imun, mereduksi stress emosi berdampak ke reduksi stress fisik, dan memurunkan tekanan darah. Selain itu juga, meningkatkan kerja hati dan menguatkan kinerja otak dan memori.
Sahabat Sehat, setelah menilik positifnya writing therapy bagi kesehatan, kamu boleh ya mencobanya untuk meminimalisir stress.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
