Obesitas merupakan kondisi kesehatan serius, yang bisa dialami oleh anak-anak maupun dewasa. Prevalensi obesitas pada anak di Indonesia juga cukup tinggi. Menurut data Riset Kesehatan Dasar Nasional (RISKESDAS), kelebihan berat badan diperkirakan dialami oleh satu dari lima orang dewasa, satu dari lima anak berusia 5-12 tahun, dan satu dari tujuh remaja berusia 13-18 tahun. Kelebihan berat badan tentu berdampak terhadap munculnya berbagai penyakit degeneratif jangka panjang.
Obesitas bersifat kompleks. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pemicu peningkatan berat badan berlebih, termasuk perilaku, genetik, dan penggunaan obat-obatan tertentu. Selain itu, meningkatnya aksesibilitas dan keterjangkauan terhadap makanan kurang sehat, tinggi lemak, gula dan garam merupakan penyebab utama kekurangan gizi, khususnya di Indonesia.

Obesitas sering terjadi saat memasuki usia 5 dan 6 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengalami obesitas antara usia 10 dan 13 tahun memiliki peluang 80% obesitas saat dewasa. Nah, anak gemuk belum tentu obesitas, namun penyandang obesitas sudah pasti mengalami kegemukan. Sahabat Sehat, yuk simak ulasan mengenai obesitas pada anak lebih lanjut!
Mengenali faktor risiko obesitas
Menurut P2PTM Kementerian Kesehatan RI menyebutkan ada beberapa faktor pemicu terjadinya obesitas pada anak, yaitu genetik, kebiasaan makan, dan aktivitas fisik. Genetik, yang biasa dikenal dengan faktor bawaan atau keturunan. Pola makan dan gaya hidup anak memiliki kesamaan dengan orang tuanya, sehingga terdapat kecenderungan meningkatnya berat badan.
Kebiasaan makan berkaitan erat dengan obesitas pada anak, contohnya mengonsumsi makanan olahan siap saji yang memiliki kandungan lemak dan gula yang tinggi namun seratnya sedikit. Sedangkan anak-anak dalam masa pertumbuhan yang tentu membutuhkan asupan buah, sayuran, daging atau ikan dan kacang-kacangan.

Kegiatan yang melibatkan fisik mengalami penurunan. Mengingat kemajuan teknologi saat ini yang membuat anak-anak lebih suka duduk bermain gawai atau menonton televisi daripada bermain di luar rumah dan berolahraga.
Obesitas pada anak juga bisa dihubungkan dengan faktor lainnya, yakni adanya penyakit penyerta (gangguan endokrin), obat (steroid), masalah sosial atau dengan keluarga, depresi dan masalah emosi lainnya.
Bahaya obesitas jangka panjang
Obesitas memiliki konsekuensi serius bagi anak-anak dan memberikan efek merugikan baik bagi anak maupun orang tuanya, yaitu diabetes, tekanan daah tinggi, masalah psikososial, sulit tidur, nyeri sendi, perubahan hormonal dan berkecenderungan memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah diantara teman sebaya.
Sahabat Sehat, anak obesitas perlu melakukan evaluasi berjangka secara menyeluruh oleh dokter. Kelola obesitas dengan baik bisa diupayakan melalui strategi, yaitu meningkatkan kebiasaan makan sehat dan olahraga bersama keluarga. Mengobati dan mencegah obesitas pada anak akan membantu perlindungan terhadap kesehatan saat ini dan yang akan datang.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
