Varises termasuk persoalan umum yang dialami seseorang karena berbagai hal, seperti kebiasaan duduk atau berdiri terlalu lama. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh vena yang berperan mengalirkan darah ke jantung dan mencegah aliran darah kembali ke organ, ngga lagi berfungsi baik. Akibatnya, darah berkumpul di pembuluh vena, sehingga membuat pembuluh darah meregang dan membengkak.

Banyak informasi beredar bahwa varises ini memicu chronic venous insufficiency (CVI) yaitu bengkaknya tungkai karena terganggunya aliran darah di pembuluh vena di kaki, sehingga darah sulit kembali ke jantung. Dikutip dari laman Alodokter, gejalanya disertai kaki terasa berat, gatal, warna kulit menggelap, kram, dan ingin selalu menggerakkan kaki (restless leg syndrome). Lalu, apakah informasi tersebut benar? Sahabat Sehat, yuk simak penjelasan berikut.
Gejala Chronic Venous Insufficiency
Varises dan chronic venous insufficiency (CVI) sama-sama disebabkan karena pembuluh vena di kaki tidak bekerja dengan baik. Akan tetapi, gejala dan tingkat keparahannya tentu berbeda. Kurang tepat jika varises memicu CVI. Sebab, varises merupakan salah satu gejalanya, ketika seseorang yang mengalami varises belum tentu mengalami CVI. Terdapat gejala lain di area tungkai yang lebih memicu yaitu tungkai nyeri, muncul luka di tungkai tapi sulit diobati, tungkai tiba-tiba bergerak, betis terasa sakit dan gatal.
Pencegahan dan Penanganan Varises
Meskipun varises ngga selalu menimbulkan CVI, Sahabat Sehat tetap perlu memperhatikan kondisinya. Lakukan upaya pencegahan jika belum mengalami dan upayakan penanganan sebelum semakin parah. Varises ringan bisa diatasi melalui perawatan mandiri di rumah untuk mencegah dan memperlambat terjadinya komplikasi, seperti luka dan perdarahan.
Hindari duduk atau berdiri terlalu lama, jaga berat badan tetap ideal, olahraga secara teratur, batasi pemakaian sepatu hak tinggi, posisikan kaki lebih tinggi dari dada saat berbaring, dan gunakan stoking kompresi. Semua upaya tersebut bisa dilakukan untuk mencegah varises. Dalam kondisi lebih parah, penanganan varises perlu dilakukan oleh tenaga medis yaitu dapat berupa operasi laser, mikroskleroterapi, terapi ablasi vena, flebektomi, pengupasan vena, ataupun bedah endoskopi vena.

Diagnosis dan Pengobatan CVI
Nah, untuk memastikan apakah pembengkakan tungkai yang dialami memang termasuk CVI, dokter akan menanyakan kejadian yang mengakibatkan bengkak dan penyakit yang pernah atau sedang dialami. Dokter biasanya juga melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lanjutan, seperti USG duplex pada tungkai atau Magnetic Resonance Venography (MRV).
Dalam kasus CVI ringan, dokter menganjurkan pasien untuk rutin berolahraga, ngga duduk bersila, dan posisikan kaki lebih tinggi dari jantung ketika duduk atau berbaring. Dokter juga menyarankan pasien untuk mengenakan stoking kompresi yang membantu melancarkan aliran darah, sehingga pembengkakan tungkai bisa berkurang.
Jika pemakaian stoking kompresi ngga efektif, maka metode pengobatan lain bisa dilakukan untuk meredakan CVI. Jenis obat yang bisa dikonsumsi untuk mengatasi CVI adalah antibiotik, obat antikoagulan, obat diuretik, dan obat untuk melancarkan aliran darah. Terdapat pula tindakan medis non bedah dan bedah yang ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing penderita.
Demikianlah penjelasan seputar varises dan CVI. Sahabat Sehat bisa lebih paham untuk mendeteksi varises dan CVI, serta mengenali berbagai upaya untuk mencegah dan mengatasinya. Jika mengalami gejala yang serius, segeralah memeriksakan diri ke dokter.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
