Cek! Ini Bedanya Kurang Darah dan Darah Rendah

Apakah Sahabat Sehat pernah mengira kalau kurang darah dan darah rendah adalah hal yang sama? Faktanya, meskipun terdengar serupa, sebenarnya dua kondisi ini sangat berbeda, baik dari pengertian, penyebab, dan penangannya. Simak penjelasan berikut.

Pengertiannya

Darah rendah atau hipotensi adalah kondisi yang  menunjukkan tekanan darah arteri di bawah normal. Dengan kata lain, hipotensi berarti kondisi ketika diukur melalui tensimeter, maka hasil sistolik dibawah 90 mmHg dan diastolik di bawah 60 mmHg. 

Foto: Freepik.com

Sedangkan kurang darah adalah kondisi yang menunjukkan kadar hemoglobin (Hb) kurang atau biasa disebut sebagai anemia. Kadar Hb normal untuk laki-laki adalah 14-18 g/dL dan untuk perempuan 12-16 g/dL. Mengetahui anemia biasanya melalui data biokimia darah melalui pemeriksaan laboratorium. 

Penyebabnya

Kurang darah atau anemia ada beberapa macam dan memiliki sebab yang berbeda. Ada yang terjadi karena, tubuh tidak bisa memproduksi hemoglobin, adanya infeksi virus, kehilangan darah karena kecelakaan, persalinan, operasi, atau volume menstruasi terlalu banyak. Bisa juga karena defisiensi zat besi dan vitamin B12. 

Kondisi anemia tersebut juga berpotensi menyebabkan darah rendah. Di samping itu, penyebab terjadinya darah rendah juga bisa karena dehidrasi, gangguan endokrin, infeksi, kehamilan, maupun anestesi spinal. Selain itu, konsumsi obat tertentu, seperti diuretik, beta bloker-nitrogliserin juga bisa menyebabkan tekanan darah rendah. 

Foto: Freepik.com

Penanganannya

Nah, karena penyebab dan kondisi keduanya berbeda, tentu penangannan yang dilakukan untuk mengatasi kurang darah dan darah rendah juga berbeda.  Kurang darah bisa atasi dengan pemberian tablet tambah darah, berupa suplemen zat besi, vitamin B12, atau asam folat. Pada kondisi anemia dengan Hb di bawah 8 g/dL, atau kehilangan darah yang parah, seperti saat operasi, melahirkan, atau kecelakaan, biasanya harus dilakukan transfusi darah.  

Sedangkan, kondisi darah rendah bisa diatasi dengan pemberian obat, seperti fludrocortisone. Selain itu, pengobatan juga diimbangi dengan penerapan pola hidup dan pola makan yang tepat, seperti makan gizi seimbang, makan sumber zat besi, serta menghindari konsumsi teh dan begadang bagi penderita kurang darah. Seseorang yang mengalami darah rendah juga dianjurkan untuk meningkatkan konsumsi garam, banyak minum air putih, dan beristirahat yang cukup.

Lalu, bagaimana dengan tanda dan gejala kurang darah dan darah rendah? Tanda dan gejala keduanya hampir sama, seperti pusing, lelah, lemas, penglihatan kabur, bahkan hingga pingsan. Namun, kurang darah lebih identik dengan kondisi kuku, kulit, dan kelopak bawah mata pucat. Jika Sahabat Sehat merasa mengalami salah satu atau kedua kondisi tersebut, segera periksa ke dokter untuk mendapatkan penangan yang tepat!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Davey, P., 2002. At a Glance Medicine. Rahmalia, A. & R. Novinaty, C. 2006. Erlangga. . Diakses 24 Februari 2023.

Sudargo, T., 2021. Asuhan Gizi Pada Lanjut Usia. Yogyakarta: UGM Press. . Diakses 24 Februari 2023

Tjokroprawiro, A. 2015. Buku Ajar Penyakit Dalam Ed.2. Surabaya: Airlangga University Press  . Diakses 24 Februari 2023

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.