Mengenal Foodborne Illnesses: Gejala dan Penyebabnya

Sahabat Sehat, foodborne illnesses menjadi salah satu fokus keamanan pangan karena berbagai isu yang sering muncul terkait dengan hal tersebut, seperti makanan yang tercemar hingga keracunan makanan. Mengetahui gejala dan penyebabnya dapat membantu Sahabat Sehat untuk mencegah munculnya foodborne illnesses. Yuk, simak tulisan berikut!

Foto: Frepeik.com

Gejala Foodborne Illnesses

Seperti yang sudah pernah dibahas pada artikel sebelumnya “Hari Keamanan Pangan Dunia 2024”, foodborne illnesses didefinisikan sebagai gangguan kesehatan yang disebabkan karena mengonsumsi makanan/minuman yang sudah terkontaminasi. Oleh karena itu, munculnya penyakit akibat konsumsi pangan ini tentu disebabkan karena adanya agen kontaminan yang masuk ke dalam makanan/minuman yang dikonsumsi.

Berbagai jenis mikroorganisme penyebab penyakit dapat mengontaminasi makanan, sehingga berisiko pada munculnya berbagai jenis penyakit bawaan makanan. Infeksi dan keracunan banyak ditemukan dalam kasus foodborne illnessesInfeksi dapat disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, virus, dan parasit, sedangkan keracunan bisa disebabkan oleh senyawa hasil metabolisme mikroorganisme atau cemaran kimia pada makanan/minuman.

Gejala umum yang sering dijumpai yaitu diare dan/atau muntah. Kondisi tersebut dapat berlangsung 1-7 hari. Gejala lainnya yaitu kram perut, mual, demam, nyeri sendi, dan kelelahan. Masa inkubasi dapat berlangsung dalam hitungan jam hingga 1 minggu.

Penyebab Foodborne Illnesses

 

Foto: Freepik.com

Bakteri

Salmonella, Campylobacter dan Escherichia coli merupakan beberapa contoh patogen yang paling umum menjadi penyebab foodborne illnesses. Gejala yang muncul seperti demam, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, dan diare.

Beberapa kelompok makanan yang umumnya tercemar Salmonella yaitu produk hewani seperti telur, unggas, dan daging lainnya. Cemaran oleh Campylobacter umumnya ditemukan pada  susu dan unggas mentah atau setengah matang, dan air minum. Escherichia coli juga ditemukan pada susu yang tidak dipasteurisasi, daging yang kurang matang, serta buah dan sayur segar yang terkontaminasi.

Ada pula bakteri idapat ditemukan dalam produk susu yang tidak dipasteurisasi, makanan siap saji dan dapat tumbuh pada suhu dingin. Cemaran Listeria dapat berakibat fatal, terutama pada bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia.

Selain itu ada Vibrio cholerae yang menginfeksi melalui air atau makanan. Gejala yang muncul berupa sakit perut, muntah, dan diare hingga menyebabkan kematian. Vibrio cholerae dapat mencemari beras, sayur, dan produk hasil laut.

Senyawa Kimia

Senyawa beracun terkadang dapat dijumpai pada bahan pangan, selain itu metabolisme mikroorganisme juga berisiko menghasilkan senyawa toksin. Beberapa senyawa toksin yang sering muncul seperti mikotoksin, biotoksin laut, glikosida sianogenik, dan racun pada jamur beracun. Jagung atau produk serealia berisiko mengandung mikotoksin, seperti aflatoksin dan okratoksin.

Persistent organic pollutants (POPs) adalah senyawa yang terakumulasi di lingkungan dan tubuh manusia, seperti dioksin dan polychlorinated biphenyls (PCB). Keduanya merupakan produk samping proses industri dan pembakaran limbah.

Cemaran kimia lainnya dapat berupa logam berat seperti timbal, kadmium dan merkuri dapat mencemari tanah dan air. Cemaran logam berat berisiko pada kerusakan saraf dan ginjal.

Cukup jelas, bukan, Sahabat Sehat! Banyak sekali kondisi yang berisiko menyebabkan munculnya Foodborne Illnesses. Oleh sebab itu, Sahabat Sehat perlu lebih memerhatikan apa yang dikonsumsi agar terhindar dari Foodborne Illnesses. Salam Sehat!

Referensi

Anonim. 2022. Causes and Symptoms of Foodborne Illness. Minnesota Department of Health. https://www.health.state.mn.us/diseases/foodborne/basics.html. Diakses pada 9 Juni 2024.

Anonim. 2022. Food safety. WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/food-safety. Diakses pada 9 Juni 2024.

Fitriani, A. 2024. Hari Keamanan Pangan Dunia 2024 “Food safety: prepare for the unexpected.” https://linisehat.com/hari-keamanan-pangan-dunia-2024-food-safety-prepare-for-the-unexpected/. Diakses pada 9 Juni 2024.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.