Atlet Cilik, Baik atau Buruk Ya?

Teman Sehat, banyaknya atlet olahraga yang udah mau ‘gantung sepatu’ atau pensiun, menyebabkan para pelatih mulai mencari ‘bibit-bibit’ atlet baru yang akan dijadikan bintang lapangan di festival olahraga ataupun turnamen olahraga. Nah, ‘bibit-bibit’ yang akan menggantikan posisi mereka, udah mulai dicari dari usia dini loh! Tapi sebenarnya, baik ngga sih mencarinya dari usia dini? Mau tau jawabannya? Lets’ check it out!

Usia dini

Anak usia dini seperti balita dan sekolah dasar, semua kegiatannya masih sangat bergantung pada orang tuanya. Orang tua berpengaruh besar terhadap pilihan aktivitas yang dilakukan anaknya, termasuk permainan dan olahraga. Terkadang, orang tua juga memberikan dorongan kepada anaknya untuk menjadikannya sebagai altet muda yang fokus terhadap salah satu cabang olahraga.

 

Berdasarkan survei yang dilakukan di Amerika, angka partisipasi anak-anak usia di bawah 6 tahun terhadap salah satu cabang olahraga secara spesifik meningkat menjadi 12% pada tahun 2008.

Selain itu, dipengaruhi juga oleh para pelatih yang semakin gencar mencari ‘bibit-bibit’ atlet bintang. Banyak pelatih yang percaya, bahwa semakin dini atlet dibiasakan berlatih, maka semakin cepat atlet tersebut mencapai puncak performanya. Ngga sedikit loh, atlet muda yang mengikuti cabang perlombaan dengan umur diatasnya, seperti pada cabang olahraga gimnastik, senam irama, loncat indah, dan figure skating.

Ada ngga ya, risikonya?

Hal yang sering dilupakan saat ‘menciptakan’ bibit muda adalah risiko, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Saat latihan difokuskan pada salah satu cabang olahraga, dengan beban dan waktu yang tinggi, efeknya akan terasa dan mengganggu secara fisik maupun psikologis anak. Selain itu, beban metabolisme anak juga meningkat, karena menutupi asupan untuk kebutuhan latihan, pertumbuhan dan perkembangan yang harus dicukupi, terutama kebutuhan zat besi dan kalsium.

Seperti, contohnya kasus atlet perempuan muda yang mengalami menstruasi pertama kali satu hingga dua tahun lebih lama dibandingkan teman seusianya. Walaupun hal ini masih dalam batas normal, tapi fenomena ini termasuk dalam periodenya (disfungsi menstruasi, rendahnya persediaan energi, dan rendahnya kepadatan mineral tulang). Secara emosional, atlet muda cenderung mengalami kecemasan, depresi, dan kelelahan. Risiko kecelakaan dan nyeri meningkat hingga akhirnya menyebabkan pensiun dini.

Hal yang harus diperhatikan

Waktu yang tepat, adalah kunci dari atlet yang sukses. Penelitian yang dilakukan oleh Joey, menunjukkan salah satu alasan bakat atletik ngga bisa langsung teridentifikasi saat usia muda, karena bakat ngga langsung terlihat diumur berikutnya.

Fokus dari olahraga untuk atlet muda adalah eksplorasi dengan cara yang menyenangkan. Libatkan mereka dalam beragam cabang olahraga untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya secara menyeluruh. Awasi pula asupan zat gizi dan psikologis anak serta waktu pemulihan dan istirahat yang cukup.

Nah, Teman Sehat, menjadi atlet merupakan salah satu pilihan yang baik bagi masa depan seorang anak. Tapi, keputusan tersebut harus diiringi dengan kesabaran dan prioritas terhadap tumbuh kembang anak yang ngga akan terulang selama masa hidupnya. Yuk, cermati pilihan mu!

 

Editor & Proofreader : Firda Shabrina, STP

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.