Belum lama ini, Indonesia sempat dihebohkan dengan adanya kontaminasi zat radioaktif berupa Cs-137 di wilayah Cikande, Banten. Kementerian Perindustrian telah mengungkap terdapat 24 perusahaan di wilayah tersebut yang terpapar Cs-137 dengan tingkat cemaran yang bervariasi.
Dari mana asalnya?
Cesium-137 atau Cs-137 merupkan produk sampingan dari reaksi fisi nuklir yang biasanya ditemukan pada pembangkit listrik tenaga nuklir dan peralatan medis. Pada kasus di Cikande, cemaran diperkirakan berasal dari pabrik peleburan besi. Diduga serbuk logam bekas yang dijadikan bahan baku pabrik tersebut telah tercemar Cs-137. Kemudian, kontaminan ini menyebar ke wilayah di sekitarnya. Efek radioaktif dari Cs-137 sendiri bisa bertahan hingga puluhan tahun.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), pada dasarnya Cs-137 mampu memancarakan sinar gamma dan partikel beta yang mampu menembus tubuh dan menyebabkan kerusakan pada sel. Namun, efek ini ngga bisa terlihat secara langsung bila hanya terpapar dalam jumlah kecil. Paparan Cs-137 dalam jumlah tinggi berisiko menyebabkan luka bakar dan sindrom radiasi akut. Lalu benarkah bisa menyebabkan kanker?
Benarkah bisa menyebabkan kanker?
Dilansir dari laman Detik.com, Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Onkologi, Dr dr M Yadi Permana, SpB, Subsp Onk (K) menjelaskan bahwa efek paparan zat radioaktif Cs-137 sangat bergantung pada dosis yang masuk ke tubuh dan lama waktu paparannya. Dampak kesehatan yang ditimbulkan umumnya ngga terjadi dalam waktu singkat. Efeknya bersifat jangka panjang, bahkan baru akan terlihat setelah lebih dari 10 tahun sejak terpapar.
Cs-137 dapat terserap dan tersebar pada jaringan tubuh, seperti otot, kulit, sumsum tulang, hingga saluran pencernaan dan menyebabkan kerusakan sel. Apabila terpapar dalam jumlah besar secara terus-menerus, kerusakan sel pada jaringan tersebut akan semakin parah.
Dalam wawancaranya dengan Detik.com, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi-onkologi Medis, dr Ronald Alexander Hukom, SpPD, KHOM, menjelaskan bahwa paparan radiasi bisa merusak DNA tubuh. Sel yang rusak tersebut dapat tumbuh abnormal dan berkembang menjadi kanker.

Penemuan lainnya
Sebuah studi di Swedia juga telah menemukan adanya korelasi antara paparan Cs-137 tingkat menengah hingga tinggi (45.41–564.71 kBq/m²) dengan peningkatan risiko kanker. Studi tersebut dilakukan dengan melacak 734.537 orang yang tinggal di wilayah terdampak selama 20 tahun pasca kejadian Chernobyl.
Selain itu, penelitian sebelumnya di Belarus, Ukraina dan Russia, mencatat bahwa kejadian kanker tiroid pada anak meningkat secara drastis setelah kecelakaan reaktor nuklir Chernobyl. Peningkatan kasus kanker darah atau leukimia pada anak juga terjadi di Ukraina dan beberapa negara Nordik. Meskipun begitu, para peneliti masih belum bisa menyimpulkan hubungan sebab-akibat paparan Cs-137 dan pemicu kanker secara langsung karena berbagai keterbatasan.
Sahabat Sehat, hingga saat ini pemerintah sudah mengupayakan proses dekontaminasi di enam lokasi yang berada di wilayah Cikande. Melansir Kompas.com, Ketua Bidang Mitigasi dan Penanganan Kontaminasi Satgas Penanganan Cs-137 telah mengonfimasi bahwa proses dekontaminasi ditargetkan akan tuntas pada akhir November 2025.

