Halo Sahabat Sehat! Ganja adalah bagian dari tanaman Cannabis sativa atau hemp yang telah dikeringkan. Beberapa komponen aktif secara farmakologi menjadikan ganja memiliki peran tersendiri dalam dunia kesehatan yaitu sebagai terapi atau obat berbagai jenis penyakit.
Belakangan ini, ganja medis sedang ramai diperbincangkan. Efektivitasnya bisa dicapai sesuai dengan ketepatan petunjuk pemakaian dari dokter yang kompeten di bidangnya. Penggunaan ganja yang salah atau penyalahgunaan berpotensi tinggi menimbulkan akibat yang fatal dan mengancam jiwa.

Mengenal ganja medis
Ganja medis, istilah medis disini mengacu pada suatu pengobatan yang menggunakan pengukuran dan takaran atau dosis tertentu. Jika ganja biasa yang digunakan, tentu besaran dosis belum ada standarisasinya.
Ganja memiliki senyawa aktif, yaitu cannabinoid yang didalamnya terdiri dari beragam zat lainnya, utamanya adalah senyawa tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidiol (CBD). THC bersifat psikoatif, sedangkan CBD ngga memiliki kemampuan tersebut.
Senyawa psikoaktif artinya mampu mempengaruhi psikis seseorang hingga muncul efek ketergantungan dan dampaknya ke arah mental. Meskipun CBD ngga bersifat psikoaktif, zat ini memiliki aktivitas farmakologi, salah satu efeknya adalah sebagai anti kejang.
CBD telah diakui dan disetujui sebagai obat oleh Food and Drug Administration (FDA) di Amerika. Obat ini diindikasikan untuk penyakit Lennox-Gastaut Syndrome (LGS) atau Dravet syndrome (DS) untuk mengatasi kejang yang sudah ngga berespon terhadap pemberian obat kejang lainnya. Demikian juga pada kasus Cerebral Palsy, hanya CBD yang dibutuhkan sebagai obat alternatif anti kejang, bukan tanaman ganja.

Efek penyalahgunaan ganja medis
Berangkat dari adanya komponen aktif yang terkandung dalam tanaman ganja, yaitu THC dan CBD yang memiliki karakteristik tertentu, inilah yang bisa mengakibatkan seseorang mengalami efek yang membahayakan jika penggunaannya di luar kaidah.
Efek negatif penggunaan ganja secara umum, yakni detak jantung meningkat, risiko bronkitis, iritasi paru, daya tahan tubuh menurun, mata merah, menghambat perkembangan janin dan perubahan struktur otak, depresi, cemas yang naik turun, gangguan konsentrasi, mengurangi kecerdasan kognitif, halusinasi delusi, dan paranoia.
Sahabat Sehat, di Indonesia, tanaman ganja termasuk dalam narkotika golongan I, artinya zat ini memiliki daya ketergantungan yang sangat tinggi. Oleh karenanya, tanaman ganja hanya bisa digunakan untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kandungan yang diturunkan dari tanaman ganja yang bisa dilegalkan sebagai obat harus diuji secara klini dan evaluasi menyeluruh akan risiko dan manfaatnya.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
BNN. 2020. Kenali dampak negatif ganja pada tubuh. https://tanahlautkab.bnn.go.id/kenali-dampak-negatif-ganja-pada-tubuh/. Diakses 25 Agustus 2022
FF UGM. 2022. Guru Besar Farmasi UGM jelaskan penggunaan ganja untuk medis. https://www.ugm.ac.id/id/berita/22651-guru-besar-farmasi-ugm-jelaskan-penggunaan-ganja-untuk-medis. Diakses 25 Agustus 2022
Maulana. 2022. 9 efek samping ganja pada kesehatan tubuh. https://hellosehat.com/mental/kecanduan/apa-yang-terjadi-jika-mengisap-ganja-dalam-jangka-panjang/. Diakses 25 Agustus 2022
FK Unair. 2022. Kenali beda ganja medis dan ganja rekreasional. https://www.unair.ac.id/2022/07/14/kenali-beda-ganja-medis-dan-ganja-rekreasional/. Diakses 25 Agustus 2022
