Sahabat Sehat, kepopuleran rokok elektrik atau (vape seringkali diasosiakan karena bau yang lebih enak dan terasa lebih bersih dibanding rokok tradisional. Banyak yang berpendapat bahwa vaping bisa mengurangi ketergantungan terhadap rokok dan lebih aman bagi kesehatan. Benarkah demikian?
Definisi Vaping
Vape adalah perangkat bertenaga baterai yang digunakan untuk memanaskan cairan menjadi uap yang dapat dihirup. Sedangkan, vaping didefinisikan sebagai kegiatan menghirup vape. Vape hadir dengan banyak bentuk dan ukuran, meskipun demikian alat vaping memiliki prinsip kerja serupa. Puffing mengaktifkan perangkat pemanas bertenaga baterai, memanaskan cairan dalam kartrid, dan mengubahnya menjadi uap. Beberapa merk mampu menghasilkan lebih banyak uap dan residu bahan kimia.

Rokok Elektrik vs Rokok Tradisional
Rokok tradisional dan rokok elektrik sama-sama mengandung nikotin. Tembakau, bahan utama rokok mengandung nikotin. Sedangkan, rokok elektrik menggunakan nikotin hasil ekstraksi tembakau. Pembakaran tembakau menghasilkan zat kimia berbahaya di udara dan perangkat vaping mengubah bahan kimia dan perasa menjadi uap yang dikombinasikan dengan nikotin sintetis.
Dari tingkat adiksi, sebuah penelitian Jankowski dkk. yang dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health melaporkan bahwa rokok elektrik lebih membuat ketagihan daripada rokok tradisional dikarenakan penggunaan kadar nikotin yang lebih tinggi.
Nah, berikut ini ada beberapa masalah kesehatan akibat dari vaping dan penggunaan nikotin.
Efek jangka pendek
Peningkatan tekanan darah, pernapasan, dan detak jantung. Mengekspos paru-paru ke berbagai bahan kimia. Vaping juga memaparkan paru-paru ke uap bahan logam yang tercipta akibat pemanasan kumparan logam di perangkat.
Efek jangka panjang
Meningkatkan risiko kanker, terutama kanker paru-paru saat dihisap dan kanker mulut saat dikunyah (produk permen atau gum mengandung nikotin); bronkitis kronis; empisema; penyakit jantung; leukemia; katarak; serta radang paru-paru.
Isu kesehatan lainnya
Menurut studi tahun 2022 dalam Tobbaco Use Insights, penggunaan rokok elektrik dapat menyebabkan gangguan pada hidung dan tenggorokan. Perbandingan pola ekspirasi pengguna vape, rokok hookah dan rokok tradional menunjukkan pengguna vape menghembuskan uap lebih banyak lewat hidung. Hal ini dikarenakan vape menawarkan berbagai rasa sesuai preferensi. Penggunaan hidung untuk menikmati rasa ini mengakibatkan hidung dan sinus terpapar uap pembakaran vape yang mengandung bahan kimia penyebab iritasi.

Peringatan dan Kasus Terkait Vaping
Food and Drug Administration (FDA) telah memperingatkan publik terhadap outbreak kasus ribuan laporan penyakit paru, termasuk puluhan kematian akibat vaping yang terjadi di Amerika Serikat. FDA dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC bekerja sama untuk menyelidiki penyebab outbreak penyakit ini. Berbagai produk rokok elektrik yang dicurigai kemudian diteliti dan teridentifikasi bahwa banyak produk mengandung THC, bahan psikotropika utama dalam ganja. Beberapa laporan pasien menunjukkan adanya campuran THC dan nikotin, atau nikotin saja saat melakukan vaping.
Pengujian guna menemukan zat berbahaya pemicu masih terus dilakukan, CDC telah mengidentifikasi zat pengental, vitamin E asetat, sebagai bahan kimia yang perlu diperhatikan terkait kejadian outbreak penyakit paru akibat vaping. CDC merekomendasikan supaya masyarakat ngga menggunakan rokok elektrik dengan kandungan vitamin E asetat dan/atau THC. CDC juga melarang keras modifikasi produk massal yang beredar dan hanya membeli rokok elektrik dari perusahaan yang memiliki izin atau lisensi produksi.
Jadi, gimana menurut Sahabat Sehat terkait penggunaan vape? Yuk, bagikan pendapat kamu di kolom komentar!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
