Kenali Senyawa Antinutrien dan Hubungannya dengan Prinsip Pemenuhan Gizi Bayi MPASI

Halo Teman Sehat! Tahukah kamu bahwa sebenarnya tumbuhan mempunyai kandungan antinutrien sebagai pelindung diri dari makhluk hidup lain? Nah, apa sih sebenernya maksud antinutrien tersebut? Sederhananya, antinutrien adalah anti zat gizi. Wah, kadar zat ini aman buat dikonsumsi dan bisa dikurangi ngga ya? Yuk simak faktanya!

Apa sih senyawa Antinutrien?

Teman Sehat, Anti-nutritional factor atau yang lebih dikenal dengan Antinutrien adalah senyawa dari tumbuh-tumbuhan yang bisa mengurangi penyerapan dan pemanfaatan zat gizi atau asupan makanan. Contoh antinutrien misalnya senyawa Fitat dalam beras yang bisa menghambat penyerapan kalsium dan zat besi, kemudian Oksalat yang menghambat penyerapan kalsium dan meningkatkan risiko pembentukan batu ginjal, dan lain sebagainya. FYI, kandungan senyawa yang bersifat antinutrien ini cukup aman dikonsumsi selagi kita memproses dengan benar dan memvariasikan asupan makanan ya, Teman Sehat.

Cara mengurangi kandungan antinutrien dalam pangan

Nah, ada beberapa cara yang bisa membantu mengurangi kadar senyawa antinutrien dalam pangan yang akan kita konsumsi, diantaranya adalah milling (penggilingan), soaking (perendaman), germinasi, fermentasi, hingga mengolahnya dengan cara memasak pangan tersebut. Tapi, Teman Sehat juga harus memperhatikan bahwa beberapa proses pengolahan bahan makanan bisa menghilangkan kandungan vitamin dan mineral yang justru dibutuhkan tubuh. Misalnya, proses perendaman yang terlalu lama atau memasak dalam air yang terlalu banyak bisa menghilangkan kadar vitamin larut air juga. Jadi, mestinya semua bahan pangan otomatis akan berkurang kadar antinutriennya jika kita olah dengan tepat.

Bagaimana dengan bayi MPASI?

Teman Sehat, seperti kita ketahui bahwa periode 1000 hari pertama kehidupan adalah masa emas untuk pertumbuhan yang menentukan kualitas hidup setelahnya. Di fase ini juga penting untuk memperhatikan pemenuhan kebutuhan zat gizi mikro berupa zat besi (Fe) dan seng/zinc (Zn), terutama pada bayi MPASI yang cadangan besinya sudah tidak bisa memenuhi kebutuhannya. Faktanya, 97% kebutuhan zat besi dan 80-90% kebutuhan zinc pada bayi harus tercukupi dari MPASI sebab di usia 6 bulan dan setelahnya, zat gizi dari ASI saja ngga bisa mencukupi. Ternyata, ada beberapa senyawa antinutrien yang dapat mengganggu penyerapan zat besi dan zinc pada bayi loh!

1. Hindari konsumsi kopi dan teh untuk bayi

Kandungan Tannin dan Polifenol dalam minuman berkafein seperti teh dan kopi dapat mengganggu proses penyerapan zat besi dan zinc. Jadi untuk memaksimalkan penyerapan zat gizi dari protein hewani, karbohidrat dan pangan lain, hindari pemberian kopi dan teh dulu ya! Selain ASI, berikan air putih untuk si kecil terutama di bawah usia 1 tahun, kecuali tambahan susu pertumbuhan sesuai indikasi medis atau anjuran dokter.

2. Pastikan proporsi makanan sesuai usianya

Perhatikan juga panduan Isi Piringku PMBA untuk bayi 6-23 bulan, sebab kebutuhan dan proporsinya berbeda dengan orang dewasa. Diantaranya adalah proporsi karbohidrat 35%, protein hewani 30%, kacang-kacangan 10% dan sayuran 25%. Perhatikan proporsi sayuran bayi MPASI lebih sedikit dibanding anak-anak (30%) dan orang dewasa (35%), ini sesuai dengan kebutuhan protein hewaninya yang lebih banyak. Nah, pengaturan proporsi ini juga akan memengaruhi penyerapan zat gizi mikro yang dibutuhkan bayi pada masa pertumbuhannya.

3. Utamakan gunakan beras yang telah disosoh

Nah sebagai negara dengan makanan pokok utama berupa beras, kamu tentunya pernah mendengar isu perendaman beras untuk menghilangkan antinutrien kan? Ternyata hal ini nga perlu ya! Sesuai standar SNI, beras putih di Indonesia telah melalui proses sosoh sehingga kandungan serat pada kulit arinya sudah hilang pada proses penggilingan. Beras yang ngga disosoh seperti beras merah, coklat atau hitam memang cocok dikonsumsi orang dewasa yang sedang membatasi jumlah kalori, tetapi utamakan beras putih untuk bayi MPASI ya, sebab proses sosoh akan membantu menghilangkan senyawa antinutrien agar penyerapan gizi oleh pencernaan bayi menjadi lebih maksimal.

Teman Sehat, ternyata senyawa antinutrien pada produk pertanian ada banyak macamnya ya, tentunya ini bukan alasan untuk tidak memberikan buah, sayur dan hasil nabati lainnya untuk bayi. Kuncinya adalah jaga keseimbangan asupan gizi dengan makanan real food dan yang bervariasi agar kebutuhan gizi bayi tercukupi. Stay healthy, Teman Sehat!

Editor & Proofreader: Fhadilla Amelia, SGz

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.