Selamat Hari Raya Imlek, Teman Sehat! Nah, untuk kamu yang sedang merayakannya, kue keranjang ngga akan ketinggalan sebagai menu makanan utama di hari istimewa ini. Kue yang dikenal juga sebagai “dodol Cina” ini ngga hanya sebagai sebuah tradisi yang harus dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi. Lebih dari itu, kue keranjang memiliki peran penting lainnya yang berkaitan dengan upacara keagamaan dan identitas masyarakat Tionghoa.
Sejarah kue keranjang

Sejak dulu, rakyat Tiongkok percaya kalau anglo (tempat masak) dalam dapur setiap rumah ada dewanya masing-masing yang dikirim oleh Yi Huang Shang Di (Raja Surga). Disebut juga sebagai Dewa Tungku, yang tugasnya mengawasi segala tindak tanduk setiap rumah dalam menyediakan masakan setiap hari.
Setiap akhir tahun, tepatnya tanggal 24 bulan 12 (atau H-6 tahun baru), Dewa Tungku akan pulang ke surga untuk melaporkan tugasnya kepada Raja Surga. Nah, supaya Dewa Tungku ngga melaporkan hal yang buruk, rakyat memberikan hidangan yang menyenangkan atau ngga membuat Dewa Tungku murka.
Akhirnya, warga Tingkok mencari bentuk sajian yang manis, yaitu kue di dalam keranjang, yang kini dikenal sebagai kue keranjang. Bentuk kuenya pun harus bulat, karena bermakna keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat berkumpul (minimal) satu tahun sekali. Selain itu, keluarga yang merayakannya juga selalu bersatu, rukun, dan bertekad bulat dalam menghadapi tahun baru yang akan datang. Sampai sekarang, kue ini masih menjadi tradisi setiap tahun untuk merayakan tahun baru Imlek.
Cara membuat kue keranjang

Masyarakat Tionghoa sendiri memiliki cara membuat kue keranjang yang bervariasi. Biasanya, kue ini terbuat dari tepung ketan dan gula pasir dengan cara sebagai berikut:
- Tepung ketan dihaluskan menggunakan alat tumbuk atau mesin penggiling, kemudian diayak. Gula pasir dicairkan dengan air.
- Kedua bahan dicampur dan diaduk hingga rata dan kental.
- Adonan disimpan dalam wadah tertutup selama dua minggu untuk menghasilkan warna merah dari kue keranjang.
- Setelah itu, adonan dicairkan kembali dengan air gula pasir.
- Kemudian, adonan dicetak dengan langko (keranjang) dari plastik atau bambu yang dialasi dengan daun pisang. Bagian atas keranjang diikat dengan benang merah atau buak chao yang dipercaya dapat menangkal pengaruh buruk dan jauh dari aura negatif.
- Adonan yang sudah dimasukkan ke dalam langko dikukus menggunakan langseng (dandang khusus) yang mampu menampung hingga lebih dari 400 buah.
- Dikukus sekitar 12 jam atau bergantung pada tingkat kematangannya.
- Terakhir, kue keranjang dibungkus dengan plastik dan daun pisang.
Kandungan gizinya
Dalam bahasa Mandarin, kue keranjang disebut sebagai Nian Gao, yang artinya kue tahunan. Kue yang menjadi hidangan wajib di hari perayaan Imlek ini memiliki rasa yang manis, bahkan jauh lebih manis dari kue biasanya.
Dalam 1 porsi (100 gram) kue keranjang, terdapat:
- Energi: 148 Kal.
- Protein: 2,83 g.
- Karbohidrat: 33,84 g.
- Gula: 20,64 g.
- Serat: 1,1 g.
- Lemak: 0,37 g.
- Sodium: 104 mg.
- Potasium: 105 mg.
Tips sehat makan kue keranjang
Kalau kamu lihat, kue keranjang ini memang memiliki kandungan karbohidrat dan gula yang tinggi. Agar kamu tetap aman dan sehat, cobalah lakukan beberapa tips ini:
- Makan ngga berlebihan, cukup 2 – 3 porsi kecil saja.
- Imbangi dengan makanan kaya serat, protein, dan lemak sehat, seperti buah, sayur, kacang, dan biji-bijian.
- Pilih minuman yang low atau non-sugar, supaya kadar gula darah ngga melonjak drastis, seperti teh tanpa gula.
- Aktif bergerak, seperti berjalan kaki saat mampir ke rumah saudara yang dekat.
Nah, itulah beberapa informasi mengenai kue keranjang. Kamu bisa menerapkan tips di atas saat makan kue keranjang di hari besar ini ya, Teman Sehat! Semoga informasi ini bermanfaat!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti STP
