Hepatitis merupakan peradangan pada hati atau liver yang serius. Faktor penyebabnya beragam, yakni infeksi virus, konsumsi alkohol, obat-obatan, autoimun, dan infeksi cacing. Hepatitis yang disebabkan oleh virus bersifat menular, oleh karenanya, penyakit ini perlu diwaspadai untuk kelompok orang yang berisiko tinggi, seperti ibu hamil.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) di Indonesia tahun 2013, melaporkan bahwa prevalensi virus hepatitis B dijumpai pada sekitar 7,1% (18 juta) dan hepatitis C sebesar 1,01% (2,5 juta). Jenis virus hepatitis yang banyak dijumpai dan umum terjadi yaitu A, B, dan C.

Gejala hepatitis saat hamil
Secara klinis, gejala virus hepatitis pada ibu hamil beragam, mulai ngga muncul hingga terasa samar dan memberat. Adapun tanda yang perlu diwaspadai yaitu mual, muntah, nafsu makan berkurang, demam, nyeri otot dan persendian, serta jaundice (penyakit kuning).
Penanganan hepatitis saat hamil perlu diatasi dengan baik. Hal ini disebabkan risiko potensial terjadinya komplikasi lanjutan yang bisa mengancam jiwa. Tipe virus hepatitis yang umum ditemui pada ibu hamil, yakni hepatitis B dan C.
Bagaimana risiko penularannya?
Pertama, hepatitis B adalah tipe yang paling sering ditularkan dari ibu ke janin di seluruh dunia, risikonya meningkat terutama pada negara yang sedang berkembang. Virus ini bisa menyebabkan kerusakan hati. Penularannya pun bisa terjadi saat sebelum, selama, dan sesudah proses melahirkan baik melalui persalinan normal maupun operasi SC.
Virus hepatitis B bisa ditularkan melalui darah, air mani, keputihan, air liur, dan cairan tubuh lainnya. Peluang penularan sebesar 90% pada bayi didapatkan dari ibu yang terinfeksi hepatitis B akut. Sedangkan sekitar 10-20% ibu hamil dengan hepatitis B kronis bisa menularkan ke janin. Risiko penularan tersebut bergantung pada jumlah virus yang ada dalam tubuh ibu.

Bayi baru lahir yang mendapatkan vaksin hepatitis B dan immune globuline dalam waktu 12 jam menunjukkan bahwa lebih dari 90% bayi ngga akan terjangkit virus ini. Immune globuline diberikan pada bayi dengan ibu yang memiliki atau diduga menderita hepatitis B. Pasca melahirkan pun, ibu bisa langsung menyusui bayinya dengan aman.
Kedua, hepatitis C ditularkan melalui darah. Sebagian besar di Amerika, penularan ini terjadi melalui penggunaan jarum suntik atau alat lain secara bergantian untuk keperluan konsumsi obat terlarang. Sekitar 4% ibu hamil yang terinfeksi hepatitis C akan menularkannya ke bayi. Penyakit ini ngga menularkan melalui ASI, namun perlu diperhatikan kondisi puting supaya ngga lecet yang memungkinkan adanya darah yang keluar.
Sahabat Sehat, ragam cara bisa diupayakan untuk mencegah hepatitis pada ibu hamil. Strateginya adalah melakukan serangkaian tes darah rutin, pemberian vaksin immunoglobulin, menghindari penggunaan narkoba dan menerapkan pola hidup sehat dan bersih.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
