Molnupiravir, Antivirus Oral Pertama pada Covid-19

Sahabat Sehat, dua tahun sudah pandemi telah membersamai segenap lapisan masyarakat di berbagai penjuru dunia. Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 ini diketahui menyerang saluran pernafasan. Meskipun saat ini vaksin tersedia dalam jumlah yang memadai, namun obat antivirus yang efektif untuk mengatasi COVID-19 itu sendiri juga masih terbatas. Belakangan ini beredar kabar bahwa ada penemuan antivirus baru yang diklaim bisa mengobati Covid-19, yakni Molnupiravir.

Pada bulan November, obat ini telah mendapatkan persetujuan dari Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA) di Inggris sebagai obat Covid-19 pertama yang bisa diminum. Obat yang dikembangkan dan diteliti oleh perusahaan farmasi, Merck, Sharp, and Dohme (MSD) and Ridgeback Biotherapeutics ini menunjukkan efektivitasnya pada tahap awal terjadinya infeksi.

Molnupiravir
Foto: Merck Sharp & Dohme Corp.

Target kerja obat molnupiravir

Molnupiravir bekerja dengan cara menurunkan kemampuan virus SARS-CoV-2 untuk bereplikasi atau memperbanyak diri dalam tubuh manusia. Hambatan replikasi virus melalui peningkatan jumlah mutasi materi genetik virus (RNA) inilah yang digunakan sebagai target kerja dari Molnupiravir. Yap, obat ini disebut bisa menurunkan separuh risiko rawat inap hingga kematian yang terjadi akibat virus tersebut.

Apa kriteria pasien yang bisa mendapat obat ini?

Molnupiravir bisa digunakan oleh pasien dewasa deengan risiko tinggi yang terkonfirmasi positif Covid-19 dengan kriteria gejala ringan hingga sedang; tanpa bantuan suplementasi oksigen; dan memiliki faktor risiko (obesitas, usia > 60 tahun, diabetes mellitus, gangguan jantung) berkembangnya tingkat keparahan penyakit.

pengobatan covid019 dengan molnupiravir
Foto: Freepik.com

Penggunaan, efek samping, dan kontraindikasi

Molnupiravir bisa segera diberikan sesudah ditegakkannya diagnosis Covid-19. Obat yang tersedia dalam bentuk kapsul ini dikonsumsi sehari dua kali selama lima hari sejak munculnya gejala. Singkatnya durasi penggunaan menunjukkan bahwa obat ini sangat praktis dan mudah digunakan. Sehingga boleh digunakan untuk pengobatan rawat jalan, yaitu di rumah.

Ditinjau dari aspek keamanannya, obat ini dilaporkan memberikan efek samping mulai dari ringan hingga sedang, seperti diare, mual, pusing, dan sakit kepala. Efek ini bisa muncul selama penggunaan maupun dalam 14 hari sesudah dosis terakhir.

Molnupiravir ngga direkomendasikan untuk ibu hamil, perempuan yang berencana hamil, dan tanpa alat kontrasepsi. Tapi, bagi perempuan yang ingin hamil diharuskan untuk menggunakan kontrasepsi secara efektif selama pengobatan dan 4 hari selepas dosis terakhir. Hal ini berlaku juga pada ibu yang sedang aktif menyusui.

Sahabat Sehat, meskipun sudah ada beberapa kandidat hingga ditemukannya obat antivirus, virus SARS-CoV-2 masih tetap bsia bermutasi menjadi varian dengan tingkat penularan yang cepat. Oleh karena itu, melalui terciptanya kesadaran untuk melakukan vaksinasi dan menjalankan protokol kesehatan dengan baik, kamu sudah bisa melindungi diri dan orang lain terhadap paparan infeksi COVID-19. Stay safe and healthy!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

FDA. 2021. Antimicrobial Drugs Advisory Committee Meeting. https://www.fda.gov/media/154418/download Diakses 9 Desember 2021

EMA. 2021. EMA Issues Advice on Use of Lagevrio for the Treatment of COVID-19. https://www.ema.europa.eu/en/news/ema-issues-advice-use-lagevrio-molnupiravir-treatment-covid-19 Diakses 9 Desember 2021

NPR. 2021. New antiviral drugs are coming for COVID, Here’s what you need to know. https://www.npr.org/sections/health-shots/2021/11/30/1059926089/new-antiviral-drugs-are-coming-for-covid-heres-what-you-need-to-know Diakses 9 Desember 2021 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.