Orthorexia, Ketika Makan Sehat Tak Lagi Menyehatkan

Hi, Teman Sehat! Saat ini banyak masyarakat yang semakin menyadari pentingnya menjaga pola makan agar terhindar dari penyakit. Mengonsumsi makanan sehat tentu memberikan banyak manfaat bagi tubuh.

Young woman making salad at the kitchen Free Photo

Tapi, faktanya ada kebiasaan konsumsi makanan sehat secara obsesif yang justru ngga baik untuk kesehatan! Orthorexia merupakan istilah yang dapat menggambarkan keadaan tersebut. Bagaimana bisa hal itu terjadi? Yuk, simak penjelasannya di sini!

Apa itu Orthorexia?

Orthorexia merupakan salah satu gangguan makan yang membuat penderitanya menjadi terobsesi terhadap konsumsi makanan sehat. Mereka akan sangat menghindari makanan-makanan yang ngga menyehatkan sesuai anggapan yang telah dibuat oleh diri sendiri. Oleh karena itu, penderitanya melakukan pembatasan yang berlebihan terhadap berbagai jenis makanan.

Berbeda dengan gangguan makan lainnya seperti anorexia atau bulimia, yang  menyebabkan penderitanya berusaha ngga makan agar mencapai berat badan yang diinginkan, penderita orthorexia justru sebenarnya memiliki pengaturan pola diet yang teratur, loh.

Apa penyebabnya?

Penderita orthorexia ngga memiliki obsesi untuk menurunkan berat badan, keinginannya yaitu mencapai hidup yang lebih sehat. Penderitanya merasa memiliki tekanan untuk harus selalu menjaga kesehatan. Gangguan ini sering dikaitkan dengan adanya gangguan psikologis.

Hombre, Masculina, Persona, Modelo, Comer, Morder

Menurut Neuropsychiatric Disease and Tretment, penderita orthorexia memiliki kemiripan dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD), yaitu memiliki tingkat kecemasan yang tinggi terhadap semua hal, perfeksionis, dan senang mengatur. Penderita orthorexia melakukan diet ini secara sadar artinya mereka menjalani diet tanpa paksaan atau pengaruh dari orang lain, melainkan dari kemauan pribadi.

Bagaimana tanda dan gejalanya?

Ada beberapa hal yang bisa terlihat saat seseorang memiliki gangguan makan yang satu ini, diantaranya:

  • Mengalami malnutrisi zat gizi tertentu dan menurunnya berat badan yang ngga disadari
  • Menghindari satu atau lebih jenis makanan tertentu
  • Menghindari teknik pengolahan makanan atau cara masak tertentu
  • Cemas, gelisah, malu, dan merasa bersalah jika tidak mampu menjalankan dietnya
  • Memiliki rasa takut berlebihan jika jatuh sakit
  • Kontrol berlebihan terhadap makanan yang dikonsumsi
  • Menghindari membeli makan di luar dan makanan yang dimasak orang lain

Apa dampaknya bagi kesehatan?

Penderita lebih fokus untuk menyesuaikan kualitas makan yang menurutnya sehat, sehingga mengabaikan pemenuhan zat gizi berdasarkan kuantitas. Padahal untuk mendapatkan manfaat yang optimal, perlu memperhatikan pemenuhan kualitas dan kuantitas. Akibatnya, dampak yang ditimbulkan ngga hanya secara fisik, tapi juga psikis dan sosial.

Hombre, Estrés, Masculina, Cara, Adulto, Joven, Persona

  • Secara fisik, bisa menimbulkan malnutrisi yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti osteopenia (kepadatan tulang rendah), anemia, hiponatremia (kekurangan natrium), metabolik asidosis (tingginya kadar asam dalam tubuh), pansitopenia (salah satu jenis anemia), dan bradikardi (denyut jantung lambat)
  • Secara psikis, penderuta merasa stress dan tertekan karena dituntut selalu melakukan diet sehat. Jika ngga mampu, penderita merasa sangat bersalah dan ketakutan berlebihan
  • Secara sosial, penderita orthorexia cenderung lebih suka mengisolasi diri dan menghindari pertemuan keluarga atau teman sebab penderita merasa ngga bisa menjalankan dietnya ketika sedang berada di luar rumah dan kurang suka jika bertemu dengan individu yang memiliki pemahaman berbeda.

Nah, Teman Sehat, diet yang ideal adalah yang ngga membuat kamu merasa terbebani. Menerapkan pola diet seimbang menjadi pilihan yang paling tepat. Jika kamu masih bingung dengan pola diet seperti apa yang sesuai dengan kebutuhanmu, jangan ragu untuk berkonsultasi kepada ahli gizi. Jangan lupa sebarkan informasi menarik ini ke orang-orang di sekitar kamu, ya!

Editor & Proofreader: Mega Kurniawati, SGz

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.